Tanggapi Lonjakan COVID-19 di Eropa, Pakar Jepang Nilai Vaksinasi yang Tinggi Tidak Bikin Kebal
Dunia
Pandemi Virus Corona

Berkaca dari lonjakan kasus COVID-19 di negara Eropa padahal cakupan vaksinasi tinggi, pakar dari Jepang menilai bahwa hal tersebut tidak membuat orang kebal.

WowKeren - Dalam mengahadapi pandemi COVID-19, negara-negara di dunia melaksanakan vaksinasi kepada penduduknya. Hal ini bertujuan agar tercapai kekebalan komunal atau herd immunity, sehingga diharapkan bisa segera keluar dari pandemi.

Meski demikian, banyak negara di dunia yang telah mengalami penurunan kasus COVID-19, termasuk di Jepang. Adapun penurunan kasus ini bisa dikaitkan dengan pencapaian vaksinasi COVID-19.

Akan tetapi, di lain sisi, terjadinya lonjakan kasus COVID-19 di Eropa belakangan ini, padahal cakupan vaksinasinya sudah tinggi, menunjukkan bahwa inokulasi bukanlah obat mujarab. Hal ini disampaikan oleh pakar terkemuka di Jepang.


Sementara itu, Kepala Pusat Pengawasan Penyakit Menular di Institut Nasional Penyakit Menular, Motoi Suzuki, menuturkan bahwa semenjak keadaan darurat COVID-19 dicabut dua bulan lalu, infeksi baru masih tetap rendah di seluruh negeri. Bahkan juga mengalami penurunan pada beberapa hari yang lalu di Tokyo.

"Saya percaya hampir semuanya dapat dijelaskan dengan vaksin," terang Suzuki. "Banyak orang pada dasarnya mematuhi protokol pencegahan infeksi, dan vaksinasi menyebar dengan cepat dari Juli pada kelompok usia 20 hingga 50 tahun yang menjadi pusat ledakan kasus baru, dan itu menyebabkan penurunan tiba-tiba dalam infeksi baru."

Dalam kesempatan yang sama, Suzuki juga memperingatkan bahwa Jepang saat ini berada pada cakupan maksimum dari vaksin, dan bahwa tindakan pencegahan diperlukan untuk cuaca yang lebih dingin untuk mencegah lonjakan kasus baru. Sementara itu, uji klinis vaksin yang diproduksi oleh Pfizer selaku perusahaan farmasi Amerika Selatan (AS) menemukan bahwa vaksin tersebut mengurangi risiko infeksi sebesar 96 persen selama dua bulan pertama setelah disuntikkan.

Akan tetapi, terjadi penurunan efikasi vaksin Pfizer menjadi 84 persen, setelah enam bulan disuntikkan. Sementara mengenai lonjakan kasus COVID-19 di Eropa padahal cakupan vaksinasi telah tinggi, ini dikarenakan pemerintah negara tersebut memberikan pelonggaran lantaran merasa bahwa masyarakatnya telah terinokulasi.

(wk/tiar)

You can share this post!

Related Posts