Kemanjuran Pil COVID-19 Buatan Merck Turun di Studi Terbaru
Dunia

Bulan lalu, pihak perusahaan mengatakan bahwa obat mereka. molnupiravir, bisa mengurangi risiko rawat inap dan kematian akibat COVID-19 'sekitar' 50 persen.

WowKeren - Pil COVID-19 eksperimental buatan Merck menunjukkan hasil yang kurang efektif dalam mengurangi rawat inap dan kematian daripada yang dilaporkan sebelumnya. Temuan ini dilaporkan dari analisis lengkap hasil uji coba pil antivirus tersebut.

Pada Jumat (26/11), perusahaan yang berbasis di Amerika Serikat itu mengatakan bahwa obat oral mereka, molnupiravir, dapat mengurangi 30 persen risiko rawat inap dan kematian bila dibandingkan dengan plasebo. Kesimpulan ini didasarkan pada data lebih dari 1.400 pasien.

Bulan lalu, pihak perusahaan mengatakan bahwa obat mereka bisa mengurangi risiko "sekitar" 50 persen. Dalam data yang diperbarui, satu kematian dilaporkan pada kelompok molnupiravir, sedangkan sembilan kematian dilaporkan pada kelompok plasebo.

Sementara itu, Merck sendiri telah mengajukan otorisasi molnupiravir di AS pada 11 Oktober, mengikuti data sementara. Rilis analisis lengkap ini datang sebelum Badan Pengawas Obat dan Makanan AS (FDA) menerbitkan satu set dokumen pada hari Jumat yang dimaksudkan untuk memberi pengarahan kepada panel ahli luar yang akan bertemu pada hari Selasa (30/11) untuk membahas apakah mereka akan merekomendasikan otorisasi pil.


Staf agensi tidak membuat rekomendasi mereka sendiri apakah pil tersebut harus disetujui. Staf FDA hanya meminta panel untuk mendiskusikan apakah manfaat obat lebih besar daripada risikonya dan apakah populasi untuk siapa obat tersebut harus diberi izin harus dibatasi. FDA juga meminta komite untuk mempertimbangkan kekhawatiran apakah obat itu dapat mendorong virus untuk bermutasi, dan bagaimana kekhawatiran itu dapat dikurangi.

Pil molnupiravir ini sempat disebut-sebut sebagai potensi pengubah permainan (game-changer) karena dapat digunakan sebagai perawatan awal di rumah untuk membantu mencegah rawat inap dan kematian. Namun, saham Merck turun hampir 3 persen menjadi USD 80 dalam perdagangan premarket di tengah penurunan keseluruhan di pasar saham karena berita varian virus corona baru.

Adapun pekan lalu, pengawas obat-obatan Uni Eropa menyarankan negara-negara anggotanya untuk bisa menggunakan pil antivirus COVID-19 Merck dalam situasi darurat. Hal ini dipicu oleh meningkatnya tingkat infeksi COVID-19 di Eropa. Inggris Raya bahkan telah menyetujui molnupiravir yang dinamakan Lagevrio ini pada awal bulan November lalu.

Sementara itu, pemerintah Indonesia kemungkinan akanmembeli 1 juta tablet molnupiravir buatan Merck. Namun Kementerian Kesehatan masih menanti hasil evaluasi uji klinis Molnupiravir oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) serta Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM)

(wk/Bert)

You can share this post!

Related Posts