Ilmuwan mencatat bahwa ada lompatan evolusioner yang terjadi dengan varian baru COVID-19, omicron. Omicron juga dianggap tidak berevolusi dari varian Delta.
- Zodiak Yanuarita
- Kamis, 02 Desember 2021 - 08:15 WIB
WowKeren - Sejumlah negara telah melaporkan deteksi varian COVID-19 omicron di wilayah masing-masing. Kekhawatiran pun berkembang luas seiring dengan masih berjalannya penelitian yang dilakukan untuk memahami seluk-beluk varian ini lebih jauh.
Namun, Telegraph melaporkan bahwa para ilmuwan tampaknya memiliki alasan untuk percaya bahwa varian yang satu ini mungkin berasal dari pasien HIV atau AIDS dengan infeksi COVID-19 jangka panjang. Richard Lessells yang merupakan seorang ahli penyakit menular di Afrika Selatan menilai bahwa kemungkinan varian omicron diinkubasi pada pasien HIV/AIDS yang tidak diobati.
Menurutnya, varian omicron tidak muncul dari proses evolusi normal. Lessells, yang juga merupakan bagian dari tim yang pertama kali membunyikan alarm tentang penyebaran varian baru ini, mencatat bahwa ada lompatan evolusioner yang terjadi dengan varian baru ini. Ia juga menilai bahwa omicron tidak berevolusi dari varian Delta.
Individu dengan immunocompromised atau kelainan imun seperti mereka yang menderita HIV atau kanker yang tidak diobati, akan merasa lebih sulit untuk melawan infeksi COVID-19. Ini artinya, virus tetap berada di tubuh mereka untuk jangka waktu yang lebih lama. Alhasil, kondisi itu memberi virus banyak kesempatan untuk bermutasi dan menemukan cara untuk bertahan dari respons kekebalan tubuh manusia, bertindak sebagai semacam "pusat pelatihan evolusioner" untuk virus, lapor Telegraph.
Sementara itu, ahli virologi Afrika Selatan Barry Schoub mengatakan kepada Sky News bahwa varian omicron mungkin telah menemukan asal-usulnya pada orang yang kekebalannya telah ditekan dan tidak divaksinasi. Penyakit HIV menyerang sistem kekebalan tubuh, sebagaimana disebutkan oleh Centers for Disease Control and Prevention. Schoub mengatakan mereka yang berhasil mendapatkan pengobatan untuk HIV adalah mereka yang "imunokompeten". Ini artinya, mereka lebih mampu menangkal virus seperti COVID-19.
Diketahui, Afrika Selatan memiliki salah satu tingkat HIV tertinggi di dunia. Sebanyak 20,4 persen dari populasi negara itu umumnya terinfeksi HIV. Hanya 71 persen dari populasi orang dewasa terinfeksi yang menjalani pengobatan untuk HIV. Sedangkan jumlah orang yang sudah divaksin COVID-19 masih ada di kisaran angka 24 persen.
(wk/zodi)