Militer Myanmar Kini Kendalikan Industri Perhiasan, Perusahaan Diminta Pastikan Tak Danai Konflik
AFP/Ye Aung Thu
Dunia

Kudeta yang dilakukan oleh junta militer sejak Februari lalu hingga kini diketahui belum juga berakhir. Bahkan kini junta militer mengendalikan industri perhiasan mewah.

WowKeren - Dalam sebuah laporan yang dirilis pekan lalu, Global Witness menyebut bahwa junta militer Myanmar kini mengendalikan industri batu permata atau perhiasan yang bernilai jutaan dolar. Bahkan industri ini disebut sangat penting dan menguntungkan di Myanmar sebagai sumber pendapatan junta militer.

Seperti yang diketahui, junta militer telah melakukan kudeta sejak Februari lalu, dan hingga kini belum juga berakhir. Melansir Al Jazeera, data resmi menunjukkan bahwa sektor tersebut mencakup perdagangan batu rubi, safir, dan batu permata lainnya.

Adapun harga jual dari macam-macam jenis perhiasan mewah itu ditaksir bernilai sekitar USD 346 juta (setara Rp4,9 triliun) hingga USD 415 juta (setara Rp5,9 triliun) per tahun. Akan tetapi, menurut laporan tersebut, angka ini memperhitungkan perdagangan gelap batu permata tersebut.

Mengenai industri perhiasan mewah yang saat ini diketahui tengah dikendalikan oleh junta militer Myanmar itu, Global Witness memperingatkan dan meminta perusahaan untuk memastikan bahwa mereka tidak sedang mendanai sebuah konflik. "Semua perusahaan harus segera meninjau rantai pasokan mereka, untuk memastikan mereka tidak mendanai konflik, korupsi, atau penindasan negara di Myanmar," bunyi pernyataan dilansir Selasa (21/12).


Masih melansir Al Jazeera, menurut laporan kelompok tersebut, berdasarkan lebih dari 150 wawancara dengan pejabat publik, anggota masyarakat dan perwakilan industri, semua mengatakan bahwa penambangan batu permata di Myanmar itu saat ini ilegal. Hal ini dikarenakan semua izin yang dikeluarkan oleh pemerintah sipil yang dikudeta telah berakhir pada 2020 lalu.

"Militer belum mengeluarkan izin apa pun secara publik, tetapi sejak perebutan kekuasaannya, pertambangan informal telah 'meledak' di negara itu," jelas Global Witness. "Dengan puluhan ribu pekerja berbondong-bondong ke tambang di Mogok di wilayah Mandalay tengah, membayar suap ke militer."

Sementara itu, Global Witness juga menghubungi 30 toko perhiasan internasional, rumah lelang, dan pengecer pasar massal yang menjual batu permata, yang berbasis di AS, Eropa, dan Asia. Hasilnya, ditemukan sebagian besar dari mereka tidak memiliki langkah-langkah uji tuntas yang memadai untuk memastikan bahwa rantai pasokan mereka tidak menyalahgunakan pendanaan.

"Akibatnya, perusahaan-perusahaan ini mungkin mendanai militer Myanmar, salah satu rezim paling brutal di dunia, membantu mempertahankan kekuasaannya yang kejam atas rakyat Myanmar," ungkap Global Witness.

(wk/tiar)

Follow Berita WowKeren.com di Google News

You can share this post!

Berita Terkait