Studi Terbaru: COVID-19 Bisa Lemahkan Sperma, Varian Omicron Sama Berbahayanya dengan Delta
Wikimedia Commons/Felipe Esquivel Reed
Dunia

Peneliti menemukan penurunan kemampuan gerak dan jumlah sel sperma pada penyintas COVID-19. Sedangkan studi Inggris mengungkap keparahan gejala varian Omicron sama saja dengan varian lain.

WowKeren - Penelitian terus dilakukan untuk mengidentifikasi karakteristik virus SARS-CoV-2 penyebab COVID-19, terutama varian Omicron yang belakangan menjadi pusat perhatian dunia. Namun untuk COVID-19 itu sendiri, masih banyak hal yang bisa diungkap termasuk efek yang ditimbulkan dari infeksi virus Corona terutama untuk jangka panjang.

Salah satunya soal kesuburan. Mengutip CGTN, kualitas sperma pada pasien sembuh ternyata menurun bila ditinjau beberapa bulan setelah sembuh dari COVID-19.

Tidak ditemukan jejak COVID-19 di cairan semen sperma pasien sembuh. Namun setelah memeriksa kualitas sperma dari 35 pria sebulan setelah mereka sembuh dari COVID-19, sebanyak 60 persen di antaranya menunjukkan penurunan kemampuan gerak sel sperma, sedangkan terjadi penurunan jumlah sel sperma pada 37 persen sampel.

Hasil serupa juga ditunjukkan usai meneliti 120 sampel penyintas COVID-19 di Belgia, sebagaimana dimuat di jurnal Fertility and Sterility. Peneliti menghimpun sampel sperma dari 120 pria berusia rata-rata 35 tahun dalam jangka waktu sekitar 52 hari setelah sembuh dari COVID-19 bergejala yang dialami.


Dari 51 laki-laki yang memberikan sampel sperma 1-2 bulan setelah sembuh, sebanyak 37 persen di antaranya mengalami penurunan kemampuan gerak pada sel spermanya, sedangkan 29 persennya mengalami penurunan jumlah sel sperma. Sementara dari 34 pria yang memberi sampel sperma lebih dari 2 bulan setelah sembuh, sebanyak 29 persen di antaranya menunjukkan penurunan kemampuan gerak sel sperma, sedangkan 6 persennya menunjukkan penurunan jumlah sel sperma.

"Pasangan yang memprogram kehamilan harus diperingatkan soal potensi kualitas sperma yang tidak optimal setelah infeksi COVID-19," tutur peneliti, dikutip pada Rabu (22/12). "Estimasi pemulihan sekitar 3 bulan, namun diperlukan penelitian lebih lanjut untuk mengonfirmasi dan menentukan apakah kerusakan ini permanen atau hanya dijumpai di kalangan minoritas."

Penelitian lain yang baru diungkap adalah soal keparahan gejala akibat infeksi varian Omicron. Peneliti Imperial College London menemukan bahwa tidak ada bukti bahwa infeksi Omicron menunjukkan keparahan gejala yang lebih ringan daripada varian lain seperti Delta.

Peneliti Imperial College London membandingkan keparahan gejala pada 11.329 pasien COVID-19 Omicron dengan hampir 200 ribu pasien varian lain. Tentu saja hasil penelitian yang masih dalam tahap diulas rekan sejawat ini berbeda dengan anggapan publik soal varian Omicron yang menimbulkan keparahan gejala lebih ringan daripada varian Delta misalnya.

"Tidak ada bukti bahwa varian Omicron menimbulkan gejala yang lebih ringan daripada Delta," tutur peneliti Imperial College London. "Dipertimbangkan dari proporsi pasien positif COVID-19 dengan gejala atau proporsi mereka yang mencari perawatan medis di rumah sakit setelah infeksi."

(wk/elva)

Follow Berita WowKeren.com di Google News

You can share this post!

Berita Terkait