Dalam rentang 24 jam, Korea Selatan melaporkan 12 kasus COVID-19 Omicron baru. Diperkirakan varian Omicron akan mendominasi dalam 1-2 bulan ke depan, memicu terjadinya krisis sistem kesehatan.
- Elvariza Opita
- Kamis, 23 Desember 2021 - 21:37 WIB
WowKeren - Korea Selatan menjadi salah satu negara yang tengah berjibaku melawan lonjakan kasus COVID-19. Meski varian Delta masih menjadi yang dominan, namun penyebaran varian Omicron sedang begitu meluas di Korsel beberapa waktu belakangan.
Situasi ini pula yang kemudian membawa Korsel mengalami hari paling mematikan sepanjang pandemi COVID-19, di mana terdapat 109 orang meninggal dunia dalam 24 jam. Dengan demikian, total sudah ada 5.015 warga Korsel meninggal dunia akibat infeksi saluran pernapasan ini.
Korsel mencatat 6.919 kasus positif baru dalam sehari. Sebanyak 1.083 di antaranya dalam kondisi serius, atau bahkan kritis, dan merupakan angka terburuk yang pernah dicatatkan di Korsel.
Dari total 589.978 kasus positif COVID-19 yang dikonfirmasi di Korsel, sebanyak 246 di antaranya adalah akibat varian Omicron. Dalam sehari saja Korsel mengonfirmasi 12 kasus baru COVID-19 Omicron, memicu kekhawatiran otoritas kesehatan setempat soal potensi varian baru ini mendominasi dalam 1-2 bulan ke depan.
"Tingkat infeksi akibat varian Omicron yang sangat signifikan bisa terjadi di negara kita pada Februari atau Maret," kata Profesor Jung Jae-hun dari Gachon University College of Medicine, dikutip dari AP News, Kamis (23/12). Hal senada juga sempat disampaikan pejabat kesehatan senior, Lee Sang-won.
Namun bukan hanya perkara penyebaran varian Omicron yang semakin mengkhawatirkan, Korsel juga sangat memandang serius krisis sistem kesehatan yang dialami. Pada Rabu (22/12) waktu setempat, Menteri Kesehatan Korsel, Kwon Deok-cheol menyatakan sistem kesehatan negara mereka dalam situasi yang sangat kritis.
Sistem kesehatan mereka mulai mencapai titik batas, sedangkan kasus positif baru terus dijumpai setiap harinya. Kenaikan kasus infeksi dan penularan yang sangat masif di antara masyarakat yang belum divaksin menjadi penyebab peningkatan pasien COVID-19 yang sampai kritis.
Angka pasien yang kritis ini, diakui Kwon, melebihi yang diekspektasikan pemerintah saat melonggarkan pembatasan pada awal November kemarin. Korsel mencatat, setidaknya ada 36 orang yang meninggal dunia di rumah saat mengantre untuk masuk ke rumah sakit dalam rentang waktu 28 November sampai 18 Desember 2021.
Sebanyak 80 persen kapasitas ranjang Unit Rawat Intensif (ICU) ditujukan untuk pasien COVID-19. Karena itulah, pemerintah tengah berusaha memperbanyak kapasitas rumah sakit untuk menghadapi kemungkinan 10 ribu kasus.
(wk/elva)