Ancaman Eksploitasi Kini Menghantui Korban Kebocoran Data Rekam Medis COVID-19 Kemenkes
Nasional
COVID-19 di Indonesia

Kemenkes RI mengalami kebocoran data rekam medis di awal tahun 2022. Enam juta data medis pasien dari sistem Kementerian Kesehatan pun kini berisiko tinggi untuk disalahgunakan.

WowKeren - Tahun 2022 diawali dengan kabar yang kurang baik dari dunia siber Tanah Air. Peristiwa kebocoran data rekam medis dari sistem Kementrian Kesehatan (Kemenkes) terjadi pada Kamis (6/1) lalu. Tak main-main, 6 juta data medis dari pasien terkait COVID-19 bocor.

Dokumen yang bocor itu merupakan rekam medis pasien, dengan sampel dokumen pasien berukuran 720 GB. Dalam situs raid forum, dokumen tersebut diberi keterangan Centralized Server of Ministry of Health of Indonesia.

Dalam dokumen dan informasi yang bocor tersebut terdapat data-data yang bersifat pribadi milik pasien. Seperti di antaranya foto medis, data administrasi pasien, hasil tes laboratorium, data ECG, hingga radiologi.

Pakar keamanan siber dari Vaksin.com, Alfons Tanujaya, menjelaskan bahwa kebocoran data medis tersebut dapat menimbulkan beragam kerugian bagi pemilik data jika disalahgunakan oleh pihak-pihak tak bertanggung jawab. Salah satu risiko yang dapat ditimbulkan menyangkut kondisi medis pasien yang mengidap suatu penyakit.


"Jika pasien yang mengalami kebocoran data mengidap penyakit atau kondisi medis tertentu yang sifatnya rahasia dan jika diketahui oleh publik akan mengakibatkan dirinya dijauhi atau diberhentikan dari pekerjaannya, tentu hal ini akan sangat merugikan," kata Alfons dalam keterangan resmi Jumat (7/1).

Belum lagi foto-foto medis yang kurang pantas juga dapat tersebar ke publik. Hal itu tentu akan memberi dampak psikologis bagi pasien.

"Atau foto medis pasien yang tidak pantas dilihat lalu disebarkan akan memberikan dampak psikologis yang berat bagi pasien," lanjut Alfons.

Yang paling mengkhawatirkan, data-data yang bocor tersebut juga terancam dimanfaatkan oleh oknum-oknum tak bertanggungjawa. Alfons juga mengatakan bahwa data-data pribadi yang tersebar dari kebocoran data ini dapat dieksploitasi penjahat siber.

"Ini hanya sedikit risiko sehubungan dengan rekam medis yang bocor dan tidak terhitung data pribadi seperti nomor telepon dan data kependudukan yang bocor dan jelas akan menjadi sasaran eksploitasi," tandas Alfons Tanujaya.

(wk/amel)


You can share this post!

Related Posts