Terpaksa Buang Vaksin Hampir Kedaluwarsa, Sejumlah Negara Miskin Tolak 100 Juta Dosis Lain
pixabay.com/stark8
Dunia

Pejabat UNICEF menyebut ada lebih dari 100 juta dosis vaksin COVID yang ditolak pada bulan Desember. Sementara 681 juta dosis yang dikirim tidak digunakan di sekitar 90 negara.

WowKeren - Seorang pejabat UNICEF mengungkap bahwa negara-negara miskin bulan lalu menolak lebih dari 100 juta dosis vaksin COVID-19 yang didistribusikan oleh program global COVAX. Penolakan itu terutama karena tanggal kedaluwarsa vaksin yang semakin dekat.

Angka tersebut menunjukkan bahwa gerakan vaksinasi untuk populasi global mengalami kesulitan meski pasokan meningkat. Apalagi ditambah dengan COVAX yang semakin dekat untuk memberikan satu miliar dosis ke total hampir 150 negara.

"Lebih dari 100 juta telah ditolak hanya pada bulan Desember saja," ungkap Etleva Kadilli, direktur divisi pasokan di badan PBB UNICEF mengatakan kepada anggota parlemen di Parlemen Eropa pada hari Kamis (13/1).

Alasan utama penolakan adalah pengiriman dosis dengan umur simpan yang pendek. Selain itu, Kadili menyebut negara-negara miskin juga terpaksa menunda pasokan karena mereka memiliki fasilitas penyimpanan yang tidak memadai. Termasuk kurangnya lemari es untuk penyimpanan vaksin.


UNICEF tidak segera menjawab pertanyaan tentang berapa banyak dosis yang telah ditolak sejauh ini secara total. Selain ditolak, banyak juga dosis vaksin yang tidak digunakan di fasilitas penyimpanan di negara-negara miskin.

Data UNICEF tentang persediaan dan penggunaan vaksin yang dikirim menunjukkan bahwa 681 juta dosis yang dikirim saat ini tidak digunakan di sekitar 90 negara miskin di seluruh dunia. Hal itu diungkap oleh CARE, sebuah badan amal, yang mengekstrak angka-angka tersebut dari database publik. Masih dari CARE yang mengutip data dari UNICEF, diketahui lebih dari 30 negara miskin, termasuk negara bagian besar seperti Republik Demokratik Kongo dan Nigeria, sejauh ini menggunakan kurang dari setengah dosis yang mereka terima.

COVAX, program global yang dipimpin bersama oleh WHO, sejauh ini telah mengirimkan 989 juta vaksin COVID-19 ke 144 negara, menurut data dari GAVI, aliansi vaksin, yang ikut mengelola program tersebut.

COVAX adalah pemasok utama dosis ke lusinan negara miskin tetapi bukan satu-satunya. Beberapa negara membeli dosis sendiri atau menggunakan program pengadaan vaksin regional lainnya.

Pasokan ke negara-negara miskin sudah lama berada dalam kondisi limited karena kurangnya vaksin. Hal itu karena negara-negara kaya mendapatkan sebagian besar dosis yang awalnya tersedia mulai Desember 2020. Namun pada kuartal terakhir, pengiriman telah meningkat secara eksponensial berkat sumbangan dari negara-negara kaya yang telah memvaksinasi sebagian besar populasi mereka.

(wk/amel)

You can share this post!

Related Posts