Menteri Keuangan Israel Positif COVID-19 Meski Sudah Vaksin Empat Kali
Unsplash/Mufid Majnun
Dunia
Vaksin COVID-19

Israel mulai memberikan booster putaran kedua, atau dikenal sebagai suntikan keempat, kepada orang-orang yang mengalami gangguan kekebalan pada akhir Desember 2021.

WowKeren - Menteri Keuangan Israel Avigdor Lieberman mengonfirmasi bahwa ia telah dinyatakan positif COVID-19. Padahal, ia telah mendapatkan empat dosis vaksin corona sebelumnya.

Hal itu diketahui dari unggahan media sosialnya pada 10 Januari lalu. Kala itu, ia mencuitkan bahwa dirinya tengah mendapatkan dosis keempat vaksin. Namun lima hari kemudian, ia mengepost bahwa ia telah dikonfirmasi positif COVID-19.

"Saya merasa baik dan akan mengisolasi diri dalam beberapa hari ke depan," ujarnya dalam postingan dalam bahasa Ibrani. Karena kondisinya ia harus melakukan pekerjaannya dari rumah.

Sebagaimana diketahui, Israel mulai memberikan booster putaran kedua, atau dikenal sebagai suntikan keempat, kepada orang-orang yang mengalami gangguan kekebalan pada akhir Desember 2021. Pada Januari 2022, kampanye diperluas ke usia di atas 60 tahun dan staf medis.


Menurut Kementerian Kesehatan setempat, booster pertama meningkatkan perlindungan tujuh hari setelah suntikan. Sedangkan untuk booster kedua ini, masih belum diketahui tingkat efektivitasnya. Sejak awal pandemi, Israel telah mengonfirmasi sekitar 1,7 juta kasus dan lebih dari 8.000 kematian.

Sementara itu, Lieberman sendiri, telah menghadapi beberapa kritik publik terkait penanganan corona. Pemerintah dianggap tidak berbuat lebih banyak untuk membantu bisnis selama gelombang omicron ini menyerang. Menanggapi kritik tersebut, ia berjanji akan terus memikirkan kebijakan ekonomi yang bertanggung jawab.

"Saya akan terus mengejar kebijakan ekonomi yang bertanggung jawab dari rumah," katanya. "Melacak data dan merencanakan langkah-langkah masa depan."

Sebelumnya, menurut studi baru Israel yang dirilis pada Selasa (18/1), dosis keempat vaksin virus corona Pfizer/BioNTech mungkin tidak cukup untuk melindungi orang agar tidak terinfeksi varian omicron COVID-19. Penelitian itu dilakukan pada 150 petugas kesehatan di Sheba Medical Center.

Penelitian itu menunjukkan bahwa vaksin meningkatkan kadar antibodi dalam darah, tetapi itu tidak cukup untuk menangani varian omicron yang terus berubah. "Orang-orang terinfeksi, mungkin dalam jumlah yang sedikit lebih rendah dibandingkan dengan individu dalam kelompok kontrol, tetapi tidak lebih rendah secara signifikan," kata pemimpin peneliti Gili Regev-Yochay.

(wk/zodi)


You can share this post!


Related Posts