Luhut  Akui Omicron Berpotensi Picu Lonjakan Kematian, Kekeh Tak Hentikan Sekolah Tatap Muka
Instagram/luhut.pandjaitan
Nasional
Sekolah di Tengah Corona

Luhut Binsar Pandjaitan mengimbau masyarakat tak menganggap enteng serangan COVID-19 varian Omicron. Meski begitu, Luhut menyebut pemerintah masih akan terus melaksanakan PTM.

WowKeren - Beberapa waktu lalu terjadi dua kematian pertama dari kasus COVID-19 varian Omicron. Menteri Koordinator bidang Kemaritiman dan Investasi, Luhut Binsar Pandjaitan pun mengingatkan jika penularan varian Omicron bisa menyebabkan kasus kematian yang cukup tinggi apabila kondisi rumah sakit tidak mampu mengantisipasi.

"Mengenai bahaya Omicron ini kita juga tidak boleh anggap enteng. Kita belum tahu juga apakah ini nanti bisa timbulkan kematian. Bisa menimbulkan kematian banyak kalau rumah sakit kepenuhan. Itu yang kita jaga," ujar Luhut dalam konferensi pers evaluasi PPKM, Senin (24/1).

Meski begitu, Luhut memastikan rumah sakit di Indonesia, maupun fasilitas penunjang lainnya sudah siap menghadapi lonjakan penyebaran varian Omicron. Meski kasus meningkat, pemerintah tetap dalam kendali penuh menghadapi varian Omicron. Ia mengklaim peningkatan kasus relatif terkendali.

"Jumlah kasus konfirmasi dan aktif harian masih lebih rendah lebih dari 90 persen jika dibandingkan dengan kasus puncak Delta," ujarnya.


Karena itu pula, pemerintah memastikan akan tetap melanjutkan pembelajaran tatap muka (PTM) terbatas 100 persen di sekolah meski kasus varian Omicron melonjak dalam beberapa waktu terakhir. Pemerintah menilai belum ada kejadian luar biasa dalam penyebaran varian Omicron.

"Sampai hari ini pembelajaran tetap dilaksanakan. Kalau ada hal-hal yang luar biasa akan diambil keputusan tersendiri. Jadi kita tidak ada rencana untuk menghentikan tatap muka, sekolah tatap muka," ungkap Luhut.

Luhut menegaskan, setiap kebijakan yang diambil pemerintah terkait penanganan penyebaran varian Omicron harus selalu tepat dan terukur. Ia memastikan pemerintah selalu menggunakan data untuk menganalisa dan memprediksi kondisi pandemi.

Sebelumnya, lima organisasi profesi yang bergerak di bidang medis meminta agar pembelajaran tatap muka (PTM) 100 persen bagi anak usia di bawah 11 tahun dievaluasi seiring dengan meningkatnya kasus penularan varian Omicron. Mereka meminta agar anak-anak dan keluarganya bisa memilih mengikuti PTM atau pembelajaran jarak jauh (PJJ) dengan melihat kondisi dan profil risiko masing-masing keluarga.

Permintaan ini dilatarbelakangi tingkat kepatuhan anak usia di bawah 11 tahun terhadap protokol kesehatan masih di bawah 100 persen. Selain itu, belum semua anak-anak tersebut mendapatkan vaksinasi COVID-19.

(wk/amel)

You can share this post!

Rekomendasi Artikel
Berita Terkait