Warga Tiongkok 'Lelah' Harus Tes COVID-19 Berulang Jelang Gelaran Olimpiade Beijing 2022
Dunia
Olimpiade Beijing 2022

Dalam hitungan hari, Olimpiade Beijing 2022 akan digelar. Segala persiapan pun telah dimatangkan pihak penyelenggara, termasuk melakukan pengujian massal terhadap penduduk sekitar lokasi Olimpiade.

WowKeren - Gelaran Olimpiade Beijing 2022 sudah ada di depan mata. Mengingat akan dilaksanakan di tengah pandemi COVID-19, pihak penyelenggara melakukan tes COVID-19 terhadap masyarakat sekitar lokasi Olimpiade itu berlangsung.

Akan tetapi tes COVID-19 yang dilakukan secara berulang itu tampaknya membuat penduduk Beijing merasa "lelah". Bahkan tes COVID-19 yang dilakukan secara berulang itu disebut menguji kesabaran warga Beijing.

Pada Rabu (26/1), putaran ketiga pengujian COVID-19 massal untuk dua juta penduduk distrik Fengtai itu dimulai. Warga pun tampak berkumpul saat menunggu antrean untuk melakukan tes COVID-19.

Melansir AP News, pengumuman resmi pengujian di media sosial itu memicu kritikan dari warga Fengtai. Salah satu warga bahkan menyebut tes COVID-19 yang dilakukan sudah terlalu sering.


"Saya baru melakukannya kemarin dan diminta melakukannya lagi hari ini," tutur warga yang diketahui identitasnya sebagai Ma, dikutip pada Rabu (26/1). " Saya mengajukan pertanyaan kepada staf dan mereka berkata, 'Berdasarkan prinsip pengujian setiap orang yang harus diuji, lakukan saja karena Anda di sini'."

Menjelang gelaran Olimpiade Beijing 2022, sejauh ini Ibu Kota Tiongkok itu telah melaporkan 14 kasus COVID-19 lokal baru dalam periode 24 jam terakhir. Sehingga total kasus COVID-19 varian Delta saat ini menjadi sekitar 50 kasus. Sementara secara nasional, Komisi Kesehatan Nasional melaporkan ada 24 kasus baru yang bukan merupakan kasus impor.

Meski jumlah kasusnya terbilang rendah dibanding negara lain, tetapi hal tersebut menjadi perhatian khusus, mengingat tidak lama lagi akan menggelar Olimpiade Beijing 2022. Sejauh ini, Ibu Kota Tiongkok itu telah meningkatkan langkah-langkah respons pandemi yang sangat ketat.

Di antaranya adalah pengujian massal di lingkungan dan bangunan yang hingga saat ini masih terus dilakukan di sekitar kota. Di sisi lain, pemerintah setempat juga mengumumkan pada pekan ini bahwa siapapun yang membeli obat demam, sakit kepala, atau flu lainnya, juga diwajibkan mengikuti tes COVID-19 dalam kurun waktu 72 jam.

"Ini tidak nyaman, tetapi kita harus bekerja sama dengan kebijakan apa pun yang dibuat oleh pemerintah," terang Zhang Jianping salah seorang pedagang di sebuah pusat perbelanjaan. "Kita harus melindungi diri kita dari masuk angin sehingga kita tidak menjadi beban negara."

(wk/tiar)


You can share this post!


Related Posts