1 Rumah Hanya Boleh Dikunjungi 5 Tamu Per Hari, Ini Cara Keluarga Singapura Rayakan Tahun Baru Imlek
Pexels/Angela Roma
Dunia

Di Singapura, jumlah rombongan yang diizinkan dalam suatu pertemuan sosial maksimal hanya lima orang. Sedangkan jumlah orang yang diperbolehkan bertamu ke satu rumah tangga dibatasi maksimal hanya lima orang per harinya.

WowKeren - Selama dua tahun berturut-turut, momen Tahun Baru Imlek harus dilewati di masa pandemi COVID-19. Warga Tionghoa pun harus membatasi perayaan Imlek dengan tetap menaati peraturan terakit pandemi COVID-19.

Di Singapura misalnya, jumlah rombongan yang diizinkan dalam suatu pertemuan sosial maksimal hanya lima orang. Sedangkan jumlah orang yang diperbolehkan bertamu ke satu rumah tangga dibatasi maksimal hanya lima orang per harinya.

Banyak keluarga Tionghoa di Singapura yang menyambut Tahun Baru Imlek tanpa perayaan berlebuhan. Sebagian menghabiskan momen Imlek hanya bersama keluarga dekat mereka saja. Sejumlah keluarga di Singapura lantas membagikan cara mereka merayakan Imlek tahun ini.

Keluarga Tan yang terdiri atas Alan Tan, ibunya, saudara-saudaranya dan anak- anaknya berencana untuk menggelar makan malam bersama. Mereka memulai hari dengan sarapan yang lezat di Albert Food Center di Bugis, kemudian mengunjungi pasar untuk membeli bahan-bahan kering. Setelah itu, keluarga Tan akan pergi ke Chinatown untuk mengunjungi kios-kios langganan mereka untuk mendapatkan daging dan ikan.

Tuan Tan akan membuat persiapan untuk makan malam reuni besar-besaran di kondominiumnya, di mana dia tinggal bersama saudara perempuannya dan ibunya yang berusia 80 tahun. Ia merupakan seorang pensiunan yang menjadi koki otodidak dan bisa menyiapkan delapan hidangan seorang diri.

"Kami tidak berasal dari keluarga kaya di masa lalu, jadi ketika kami masih muda, kami selalu memiliki keinginan untuk makan di restoran," paparnya. "Setiap kali saya memiliki kesempatan untuk makan di restoran, dalam pikiran saya, saya akan mencoba untuk meniru hidangan tertentu, terutama untuk Tahun Baru Imlek dan membuatnya bergaya restoran."

Keluarga Tan telah mempertahankan tradisi belanja dan makan bersama ini selama setengah dekade. Namun pembatasan COVID-19 tahun lalu membuat keluarga tersebut terpaksa menghentikan tradisi mereka.


Mereka juga harus melakukan pertemuan "terdesentralisasi", di mana kerabat akan berkunjung pada hari yang berbeda. Hal ini bertujuan untuk membatasi pengunjung harian per rumah tangga.

Sementara itu, keluarga Liang memiliki cerita berbeda soal Imlek. Tuan Liang Sea Fong lahir di Malaysia dan telah tinggal di Malaysia selama 42 tahun. Ibu dan dua saudara kandung Tuan Liang biasa terbang ke Singapura dari Malaysia untuk merayakan Imlek bersama-sama.

Meskipun perbatasan dibuka kembali November lalu, dan orang yang telah divaksinasi dapat melakukan perjalanan bebas karantina antara Malaysia dan Singapura, Liang dan keluarganya tidak akan kembali ke Malaysia. Pasalnya, mereka kehabisan tiket pesawat.

"Pada saat saya mencoba membelinya, semuanya terjual habis," ungkapnya.

Selain itu, keluarga Liang juga tidak bisa mengunjungi kerabatnya karena mereka melebihi ukuran kelompok yang diizinkan untuk pertemuan sosial dan kunjungan. Oleh sebab itu pada momen Imlek tahun ini, keluarga Liang hanya akan makan sederhana di rumah, menyantap sajian yang disiapkan oleh sang istri.

Hal senada juga dialami oleh Deng Xin Mo. Wanita berusia 31 tahun tersebut merupakan seorang warga negara Tiongkok yang telah tinggal di Singapura selama delapan tahun. Pada momen Imlek tahun ini, ia tidak akan kembali ke kampung halamannya di Chengdu, Provinsi Shicuan, untuk menemui keluarga.

Deng memutuskan untuk tidak kembali ke Chengdu tahun ini karena menurutnya itu terlalu merepotkan dan mahal. Mengingat ia harus menghabiskan masa empat minggu di karantina setibanya di Tiongkok, yakni dua minggu di hotel dengan biaya sekitar SGD 2.000 atau sekitar Rp 21,1 juta, dan dua minggu di kediamannya.

"Aku baik-baik saja dengan tidak kembali. Tapi saya merasa bersalah karena orang tua saya semakin tua. Dengan adanya pandemi, waktu yang saya habiskan bersama orang tua menjadi lebih singkat karena saya tidak bisa pulang dengan mudah," kata Deng yang merupakan anak tunggal.

(wk/Bert)

Follow Berita WowKeren.com di Google News

You can share this post!

Berita Terkait