Tumpahan Minyak Ekuador Meluas Cemari Kawasan Hutan Lindung Amazon
pixabay.com/Ilustrasi/deltreehd
Dunia

Hampir dua hektar kawasan lindung Taman Nasional Cayambe-Coca telah terkontaminasi. Begitu juga dengan Sungai Coca yang merupakan salah satu sungai terbesar di Amazon.

WowKeren - Tumpahan minyak yang terjadi Ekuador timur kian meluas, hingga laporan terbaru menyebutkan bahwa tumpahan itu telah mencapai kawasan lindung hutan hujan Amazon. Kementerian Lingkungan Ekuador juga menyebutkan tumpahan minyak telah mencemari sungai yang digunakan sebagai sumber air minum bagi masyarakat adat.

Dalam sebuah pernyataan hari Senin (31/1), kementerian mengatakan jika hampir dua hektar kawasan lindung Taman Nasional Cayambe-Coca telah terkontaminasi. Begitu juga dengan Sungai Coca yang merupakan salah satu sungai terbesar di Amazon.

Taman itu memiliki luas 400.000 hektar dan menjadi habitat bagi berbagai macam hewan dan memiliki cadangan air yang penting. Sebagaimana diketahui, pada Jumat (28/1), hujan lebat menyebabkan tanah longsor di provinsi Napo timur. Sebuah batu menghantam dan merusak pipa milik perusahaan swasta OCP Ekuador.

Pemerintah masih belum menghitung tingkat kerusakan yang ditimbulkan oleh tumpahan itu, begitu juga dengan OCP Ekuador. Namun, otoritas lingkungan menggambarkannya sebagai peristiwa polusi besar.


"Staf kami memantau 210 kilometer (130 mil) Sungai Coca dan anak-anak sungainya," kata Kementrian. "Dan mengoordinasikan penahanan dan perbaikan di mana jejak-jejak hidrokarbon diidentifikasi."

Pada Sabtu (29/1), operator OCP Ekuador mengatakan mereka telah berhenti memompa minyak mentah. Hari berikutnya, mereka mengatakan telah mengontrak tiga perusahaan spesialis untuk melakukan pekerjaan pembersihan dan perbaikan.

Patricia Vargas, yang mengepalai komunitas Adat Panduyaku di provinsi Sucumbios Ekuador mengatakan kepada Reuters, "Minyak sudah melapisi tepi Sungai Coca dan kami menyerukan tindakan segera."

Perkembangan itu terjadi di tengah meningkatnya kekhawatiran bahwa minyak mentah, pembalakan liar, dan aktivitas manusia mendatangkan malapetaka di hutan hujan kawasan itu. Aktivis telah meminta pemerintah untuk berbuat lebih banyak guna melindungi satwa liar yang terancam punah.

Sejak tahun 2020, erosi yang terjadi di sepanjang Sungai Coca telah menyebabkan masalah untuk pipa OCP (swasta) maupun SOTE (pemerintah). Pada Desember, kedua perusahaan menghentikan aktivitas pemompaan karena masalah tersebut, yang menyebabkan pemerintah mengumumkan force majeure atas sebagian besar ekspor minyak dan kontrak produksi negara tersebut.

(wk/zodi)

Follow Berita WowKeren.com di Google News

You can share this post!

Berita Terkait