Bagi Majawat, yang suaminya bekerja sebagai arsitek di Isle of Skye, biaya finansial dari gelembung perjalanan terlalu mahal untuk mereka pertimbangkan.
- Zodiak Yanuarita
- Selasa, 01 Februari 2022 - 09:48 WIB
WowKeren - Sejumlah negara di Asia tengah merayakan Tahun Baru Imlek 2022, salah satunya Malaysia. Di perayaan Imlek kali ini, banyak warga malaysia yang memanfaatkan kebijakan pemerintah terkait COVID-19 untuk kembali ke kampung halaman dan merayakan momen spesial itu bersama keluarga.
Bagi warga Tionghoa, tentu momen kali ini sangat berarti mengingat dua tahun sebelumnya momen berkumpul semacam itu sulit dilakukan. Untuk pertama kalinya dalam dua tahun, pemerintah memperbolehkan perjalanan lintas perbatasan negara bagian. Begitu juga pertemuan keluarga dekat.
Namun sayangnya, bagi warga Malaysia yang ada di luar negeri mereka harus menahan diri terlebih dahulu dari bertemu dengan keluarga. Mereka hanya dapat menyaksikan dengan sedih karena perbatasan internasional masih dibatasi.
Selain itu, perjalanan pulang terbukti masih terlalu merepotkan dengan izin yang harus dilakukan, gelembung perjalanan, dan karantina yang menghalangi. Evangeline Majawat, seorang Sabahan yang menikah dengan warga negara Inggris yang telah tinggal di Skotlandia, sudah dua tahun ia tidak bertemu keluarganya.
Dia memiliki harapan besar karena akhirnya akan bisa bersatu kembali dengan orang tuanya di Kota Kinabalu ketika pemerintah mengumumkan rencana untuk membuka perbatasan internasional pada bulan Januari. Namun sayangnya, rencana itu sirna karena dunia bergulat dengan omicron.
Malaysia pada dasarnya tidak menutup pintunya bagi warganya dan pelancong internasional. Namun, biayanya relatif mahal. Bagi Majawat, yang suaminya bekerja sebagai arsitek di Isle of Skye, biaya finansial dari gelembung perjalanan terlalu mahal untuk mereka pertimbangkan. "Pilihannya adalah rute Langkawi Travel Bubble, tapi biayanya mahal karena suami dan satu anak saya orang Inggris," ujarnya.
Sebetulnya ada opsi lain yakni MyTravelPass, namun pengajuan itu memerlukan waktu satu bulan sedangkan suaminya tidak mungkin mendapatkan persetujuan. Ini adalah keputusan yang sulit bagi diaspora Malaysia, terutama mereka yang memiliki pasangan asing dan anak-anak yang memiliki kewarganegaraan berbeda.
"Saya berharap pemerintah akan membuat peta jalan yang layak untuk membuka perbatasan," ujarnya melanjutkan. "Atau setidaknya melonggarkan pembatasan untuk kembalinya warga Malaysia dengan anggota keluarga asing."
(wk/zodi)