Satu-satunya tempat ia dan pasangannya bisa tinggal adalah Afghanistan. Dia menghubungi senior Taliban yang meyakinkannya bahwa tidak akan ada masalah jika dia kembali ke Kabul.
- Zodiak Yanuarita
- Selasa, 01 Februari 2022 - 11:44 WIB
WowKeren - Seorang reporter asal Selandia Baru Charlotte Bellis telah kembali ke Kabul bersama pasangannya. Bellis, yang dalam kondisi hamil, terpaksa kembali ke Afghanistan lantaran ia ditolak masuk kembali ke negaranya.
Menurut New Zealand Herald, Bellis mengatakan bahwa dia telah berulang kali gagal mengamankan tempat untuk masuk kembali ke Selandia Baru melalui skema Managed Isolation and Quarantine (MIQ). Alhasil, ia harus mengambil langkah luar biasa dengan meminta bantuan Taliban.
Bellis kemudian menceritakan awal mual dirinya bisa sampai ke Afghanistan. Ia telah ditugaskan ke Afghanistan oleh Al-Jazeera Qatar untuk meliput pengambilalihan negara oleh Taliban pada Agustus 2021. Sedangkan pasangannya, merupakan fotografer New York Times.
Sekembalinya ke Doha, Qatar, pada bulan September, Bellis mengetahui bahwa dia hamil. Sedangkan di Qatar, hamil di luar nikah adalah ilegal sehingga Bellis pun memutuskan untuk kembali ke Selandia Baru melalui skema MIQ.
Namun, ia gagal berulang kali. Akhirnya, dia mengundurkan diri dari pekerjaannya di Al Jazeera pada bulan November dan pindah ke negara asal pasangannya, Belgia. Dengan paspor Selandia Baru yang dimilikinya, ia hanya memiliki waktu terbatas di sana.
Sementara itu di lain sisi, satu-satunya tempat lain di mana pasangan itu memiliki visa untuk tinggal adalah di Afghanistan. Dia menghubungi kontak senior Taliban yang meyakinkannya bahwa tidak akan ada masalah jika dia kembali ke Kabul, meskipun dia tidak menikah dengan pasangannya.
"Ketika Taliban menawarkan Anda yang merupakan seorang wanita hamil yang belum menikah tempat yang aman, Anda tahu bahwa situasi Anda sedang kacau," kata Bellis.
Lewat Instagram Story-nya, Bellis juga mengucapkan terima kasih kepada warga Afghanistan yang telah mengulurkan tangan untuk menawarkan bantuan. Bellis menulis bahwa situasinya diperburuk ketika pada 18 Januari, MIQ mengumumkan penangguhan putaran lotere berikutnya sehubungan dengan meningkatnya kasus omicron.
"Tidak ada jalan pulang selain mengajukan untuk MIQ darurat", tulisnya. Namun, permohonannya ditolak. Chris Bunny, kepala MIQ mengatakan bahwa aplikasi darurat Bellis ditolak karena tanggal yang dia minta tidak dalam jangka waktu 14 hari yang diperlukan untuk aplikasi darurat.
(wk/zodi)