Perdana Menteri Australia mengumumkan dibukanya kembali pembatasan bagi turis ke negara tersebut. Sebelumnya, sejak tahun 2020 lalu, Australia melakukan pembatasan karena pandemi COVID-19.
- Amelia Nur Fatimah
- Senin, 07 Februari 2022 - 16:31 WIB
WowKeren - Setelah sekian lama, Australia akhirnya akan membuka kembali pembatasan untuk turis mulai 21 Februari mendatan. Kabar tersebut diumumkan oleh Perdana Menteri, Scott Morrison pada Senin (7/2). Australia pun akhirnya mengakhiri salah satu pembatasan perjalanan pandemi yang paling ketat dan terlama di dunia.
"Sudah hampir dua tahun sejak kami mengambil keputusan untuk menutup perbatasan ke Australia. Jika Anda divaksinasi ganda, kami berharap dapat menyambut Anda kembali ke Australia," kata Morrison, mengumumkan perbatasan akan dibuka kembali untuk semua pemegang visa.
Diketahui bahwa pelabuhan dan bandara Australia ditutup untuk turis pada Maret 2020 dengan tujuan melindungi benua pulau dari pandemi global yang melonjak. Sejak itu, sebagian besar warga Australia dilarang pergi dan hanya segelintir pengunjung yang diberikan pengecualian untuk masuk.
Aturan tersebut telah membuat warga negara terdampar di luar negeri, memecah keluarga hingga memukul industri pariwisata multi-miliar dolar negara tersebut. Bahkan sering memicu perdebatan sengit tentang keterbukaan Australia ke seluruh dunia. Menurut Kamar Dagang dan Industri Australia, setiap bulan kebijakan "Fortress Australia" telah merugikan bisnis sekitar US$2,6 miliar (S$3,5 miliar).
Dalam beberapa bulan terakhir, aturan secara bertahap dilonggarkan untuk warga Australia, penduduk jangka panjang, dan pelajar. Keputusan terbaru akan membuat hampir semua batas yang tersisa diangkat.
Kabar itu tentu membawa kegembiraan tersendiri bagi sektor pariwisata di Australia. Pasalnya, selama pembatasan, sektor perjalanan dan pariwisata Australia telah mengalami masa sulit karena jumlah pengunjung turun hampir 98 persen dibandingkan dengan tingkat sebelum pandemi.
"Kami sangat senang bisa membuka kembali. Beberapa tahun terakhir sangat sulit bagi kami," kata Tony Walker, direktur pelaksana Quicksilver Group, yang mengoperasikan kapal pesiar, menyelam, dan resor di Great Barrier Reef.
Selama pandemi, perusahaan itu mengalami penurunan dari 650 karyawan menjadi 300 saja saat ini. Walker mengatakan dia memperkirakan akan membutuhkan waktu untuk pulih dari dua tahun terakhir.
Banyak operator pariwisata di seluruh Australia mengalami kekurangan staf. Hal itu mengingat betapa sedikitnya backpacker dan turis pekerja yang datang.
Selain Australia, hanya segelintir negara yang tetap tertutup bagi turis. Di antaranya Jepang, Cina, Selandia Baru, dan beberapa negara Kepulauan Pasifik.
(wk/amel)