Kasus COVID-19 Capai Rekor Mengejutkan, Hong Kong Tegaskan Tetap pada Strategi  'Dynamic Zero'
pixabay.com/Ilustrasi
Dunia

Hong Kong memang telah memberlakukan pembatasan COVID-19 yang ketat. Kebijakan itu telah mengubah pusat bisnis global menjadi salah satu kota besar paling terisolasi di dunia.

WowKeren - Hong Kong akan tetap berada pada strategi COVID-19 "dynamic zero" mereka untuk membendung penyebaran virus corona. Hal itu sebagaimana disampaikan oleh pemimpinnya, Carrie Lam, pada Selasa (8/2) saat pihak berwenang berkutat untuk mengendalikan rekor jumlah infeksi.

Pada konferensi, Lam mengatakan bahwa pemerintah akan mengumumkan pembatasan COVID-19 lebih lanjut. Langkah ini diambil usai kota itu mencatat rekor mengejutkan kasus infeksi pada Senin (7/1) yang melampaui angka 600.

Surat kabar Tiongkok People's Daily mengklaim bahwa strategi "dynamic zero infection" ini adalah pilihan ilmiah untuk Hong Kong. Menurut Lam, saat ini yang paling penting adalah mematuhi strategi nol dinamis yang digunakan oleh Tiongkok daratan untuk membendung wabah seketat mungkin. Ia mendesak warga agar tetap berada di rumah mereka.

"Kita harus menahan penyebaran virus sebanyak dan secepat mungkin," ujarnya. "Kami membutuhkan dukungan Anda, kami membutuhkan kerja sama Anda. Anda hanya perlu tinggal di rumah."


Sebagaimana diketahui, Hong Kong memang telah memberlakukan pembatasan COVID-19 yang ketat. Kebijakan itu telah mengubah kota itu menjadi salah satu kota besar paling terisolasi di dunia.

Pendekatan garis keras semacam itu bahkan telah mendatangkan kerugian ekonomis dan psikologis yang meningkat dengan cepat. Langkah-langkah yang diterapkan menjadi lebih ketat dibanding saat pertama kali diterapkan pada tahun 2020 lalu.

Akibat kebijakan itu, penerbangan turun hingga 90 persen. Tak hanya itu, fasilitas umum seperti sekolah, taman bermain, gym ditutup. Pegawai negeri dan sebagian besar orang juga harus bekerja dari rumah.

Banyak pakar kesehatan menilai jika strategi yang diterapkan kota ini tidak bisa berkelanjutan. Sebab ketika negara lain di dunia mulai beralih ke hidup berdampingan dengan virus, kota ini masih memilih untuk "mengisolasi diri".

Dokter menyoroti bahwa kebijakan itu berdampak pada kesehatan mental warganya. Terutama bagi orang berpenghasilan lebih rendah, atau anak-anak yang tidak bisa pergi ke sekolah karena pembatasan.

(wk/zodi)

Follow Berita WowKeren.com di Google News

You can share this post!

Berita Terkait