Banyak Perajin Tempe Pilih Kedelai Impor Meski Harga Meroket, Apa Bedanya Dengan yang Lokal?
Nasional

Beda dengan tahu, para perajin tempe mengalami kesulitan tersendiri dengan harga kedelai impor yang makin melambung. lantas, apa perbedaan kedelai impor dan lokal?

WowKeren - Para perajin tempe kini berada dalam masa sulit karena harga kedelai impor yang terus meroket. Meski harga kedelai impor terus melambung, para perajin nyatanya enggan untuk beralih menggunakan kedelai lokal. Bahkan mereka lebih memilih untuk mogok produksi.

Lantas, apa yang berbeda antara kedelai impor dan lokal? Kenapa para perajin tempe lebih memilih menggunakan kedelai impor untuk bahan baku mereka?

Kedelai impor dan kedelai lokal memiliki keunggulan dan kelebihan masing-masing. Kedelai lokal memang unggul dari impor dalam hal bahan baku pembuatan tahu. Rasa tahu lebih lezat, rendemennya pun lebih tingi, dan resiko terhadap kesehatan cukup rendah karena bukan benih transgenik.

Tapi untuk pembuatan tempe, kedelai impor lebih unggul. Hal itu lantaran ukuran biji kedelai lokal kecil atau tidak seragam dan kurang bersih, kulit ari kacang sulit terkelupas saat proses pencucian kedelai serta proses peragiannya pun lebih lama. Lalu setelah berbentuk tempe, proses pengukusan lebih lama empuknya.

Hal itu berdasarkan pemaparan persentasi Direktur Aneka Kacang-Kacangan dan Umbi-Umbian Kementerian Pertanian, Maman Suparman dalam sebuah diskusi.


Hal serupa juga diungkap salah satu perajin tempe di Cirebon, Feri Cahyono.Menurutnya, kedelai lokal kurang bagus jika diolah menjadi tempe. Tekstur tempe yang dibuat dari kedelai lokal tidak keras.

"Tidak keras ketika digoreng dan kedelai lokal lebih cepat basi. Makannya kalau bikin tempe pakai kedelai lokal harus cepat habis hari itu juga dan harus langsung digoreng," pungkasnya, Senin (12/2).

Perbedaan antara kedelai lokal dan impor juga terledat di sejumlah hal lain. Di antaranya dalam hal budidaya hingga produktivitas dan luas lahan.

Dalam hal budidaya kedelai baik lokal maupun impor punya kelebihan masing-masing. Kedelai lokal memeliki umur tanaman lebih singkat 2,5 - 3 bulan daripada impor yang mencapai 5 - 6 bulan. Benihnya pun lebih alami dan non-transgenik.

Akan tapi dalam hal produktivitas dan luas lahan, kedelai impor lebih tinggi. Bila varietes lokal umumnya masih berproduksi di bawah 2 ton per hektare, maka impor bisa mencapai 3 ton per hektarenya. Biji impor pun umumnya lebih besar.

Lemahnya produktivitas kedelai lokal tersebut tidak didukung oleh industri perbenihan yang kuat, mekanisasi usaha tani berskala besar serta efisien, dan juga lahan khusus kedelai yang luas.

(wk/amel)

Follow Berita WowKeren.com di Google News

You can share this post!

Berita Terkait