Hari Terakhir Aksi Mogok Produksi, Perajin Tahu-Tempe Berharap Pemerintah Beri Respons
Orami Photo Stock
Nasional

Diketahui, aksi mogok produksi ini dilakukan perajin tahu-tempe selama tiga hari sebagai bentuk protes atas melambungnya harga kedelai impor yang menjadi bahan baku tahu-tempe.

WowKeren - Aksi mogok kerja tiga hari yang dilakukan perajin tahu-tempe memasuki hari terakhir pada Rabu (23/2) hari ini. Diketahui, aksi mogok kerja ini dilakukan sebagai bentuk protes atas melambungnya harga kedelai impor yang menjadi bahan baku tahu-tempe.

Salah seorang perajin tahu-tempe di Kampung Rawa Selatan mengungkapkan harapannya pasca aksi mogok selesai. Pria bernama Cahyono itu berharap agar pemerintah memberi respons untuk menurunkan harga kedelai.

"Moga-moga ada respon dari aksi mogok ini. Karena ini bukan untuk kepentingan perajin aja, tapi juga pedagang dan pembeli. Biar mereka belinya enggak mahal," tutur Cahyono pada Rabu.

Lebih lanjut, Cahyono mengatakan bahwa harga kedelai yang mahal akan membuat perajin kesulitan memberi harga ke pedagang. Pasalnya, pembeli yang mendatangi tempat produksinya rata-rata merupakan pedagang yang akan menjual kembali tahu-tempe tersebut, bukan untuk konsumsi pribadi.


"Mau pakai opsi naikin harga, itu juga susah. Karena pembeli yang datang, tempenya mau dijual lagi. Kalau kecilin ukuran, mereka lari ke perajin lain. Dibanding-bandingin. Susahnya di situ," paparnya.

Selama mengikuti aksi mogok kerja, Cahyono hanya bersih-bersih tempat produksinya dan menunggu kabar terkait harga kedelai. "Tiga hari ini saya cuma bersih-bersih sambil nungguin kabar dari komunitas harga kedelai stabil lagi di pasaran biar enak juga jualnya," ungkapnya.

Di sisi lain, perajin tempe di Pasar Johar Baru, Jakarta Pusat, sudah kembali beroperasi di hari terakhir aksi mogok kerja. Mereka kembali melakukan produksi pada hari ini agar tempenya sudah bisa dijual pada Kamis (24/2) besok.

"Kalau kita mau mogok terus, kita mau makan apa? Kalau kita berlarut-larut mogok terus, sedangkan kita habisnya saja sedikit. Sedikit saja sudah bingung. Kalau enggak ngikutin temen-temen kita juga mau ikut produksi terus, tapi kan kita ngikutin temen-temen aja. Jadi ikut mogok," papar seorang perajin tempe bernama Agus kepada Kompas TV.

Di hari pertama produksi, perajin ini membuat tempe dalam jumlah normal meski harga kedelai impor masih belum turun. perajin itu terpaksa menaikkan harga tempe yang dibuatnya demi menyiasati biaya produksi. Apabila tidak menaikkan harga, maka ia dipastikan akan mengalami kerugian karena tak bisa menutup biaya bahan baku yang mahal.

(wk/Bert)

Follow Berita WowKeren.com di Google News

You can share this post!

Berita Terkait