Sebelumnya, Presiden Belarusia memberikan sinyal atas dukungannya terhadap Rusia, hingga disebut siap menginvasi Moldova usai Ukraina. Hal ini pun terdengar oleh Moldova.
- Tiara Yola Ade Ramadhanti
- Jumat, 04 Maret 2022 - 10:03 WIB
WowKeren - Presiden Belarusia Aleksandr Lukashenko yang merupakan sekutu Rusia sebelumnya disebut memberi sinyal dukungan terhadap Vladimir Putin atas invasi terhadap Ukraina. Tidak hanya itu, Lukashenko bersama pasukan Rusia juga diduga akan menginvasi Moldova.
Mendengar kabar tersebut, Presiden Moldova Maia Sandu lantas mengajukan keanggotaan kepada Uni Eropa (UE) demi keselamatan negaranya. Sandu diketahui menandatangani aplikasi resmi bagi negaranya untuk bergabung dengan UE pada Kamis (3/3), menunjukkan arah pro-Barat yang dipercepat oleh invasi Rusia ke negara tetangga Ukraina.
Adapun langkah Sandu dalam mengajukan keanggotaan UE dilakukan beberapa hari setelah Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy menandatangani permintaan untuk segera menjadi anggota UE saat negara tersebut memerangi invasi pasukan Rusia.
Sandu, Perdana Menteri Moldova, dan ketua parlemen semuanya diketahui menandatangani dokumen tersebut selama pengarahan di Ibu Kota Chisinau, di mana politisi pro-Rusia dan Pro UE telah bersaing untuk mendapatkan kendali sejak Moldova memenangkan kemerdekaan dari Uni Soviet pada tahun 1991 silam.
"Butuh waktu 30 tahun bagi Moldova untuk mencapai kedewasaan, tetapi hari ini negara itu siap untuk bertanggung jawab atas masa depannya sendiri," tutur Sandu dalam keterangannya, dilihat Jumat (4/3).
"Kami ingin hidup damai, sejahtera, menjadi bagian dari dunia bebas," lanjut Sandu. "Sementara beberapa keputusan membutuhkan waktu, yang lain harus dibuat dengan cepat dan tegas, dan memanfaatkan peluang yang datang dengan dunia yang berubah."
Setelah berkas-berkas tersebut diajukan, seorang pejabat UE mengatakan bahwa pihaknya akan menerima pengajuan keanggotaan UE dari Georgia dan Moldova yang akan diterima Brussels. Pada Kamis (3/3), pejabat itu mengatakan bahwa aplikasi tersebut akan jatuh tempo "dalam waktu dekat".
Sementara itu, Menteri Luar Negeri Nicu Popescu memuji pengumuman dari Sandu itu sebagai "hari yang akan dibanggakan oleh generasi mendatang, itu adalah saat negara kita telah berlabuh secara permanen di ruang Eropa."
Sebagai informasi, Moldova merupakan salah satu negara termiskin di benua tersebut, menandatangani perjanjian asosiasi dengan UE pada 2014 silam, yang bertujuan menyelaraskannya dengan standar politik dan ekonomi serikat pekerja. Namun belum mendapat jaminan keanggotaan.
"Sejarah telah menganggap pilihan Eropa dari orang-orang Georgia sebagai tujuan strategisnya," ujar PM Irakli Garibashvili. Sebelumnya, Georgia di tahun lalu mengumumkan niatnya untuk mengajukan keanggotaan UE pada tahun 2024 mendatang.
Di sisi lain, upaya dari negara-negara bekas Soviet untuk membangun hubungan yang lebih dekat dengan Barat telah lama membuat Rusia marah. Bahkan Moskow sangat menentang ekspansi Uni Eropa dan NATO ke arah timur, yang dilihatnya sebagai ancaman langsung terhadap keamanan Rusia.
Menanggapi pengajuan keanggotan UE dari Moldova dan Georgia, Barat telah menyatakan keprihatinan bahwa kedua negara tersebut berisiko menjadi target yang mungkin bagi Kremlin setelah Ukraina.
"Kami mendukung Moldova dan Georgia untuk mempertahankan kedaulatan dan keamanan mereka," ujar Presiden Prancis Emmanuel Macron pada pekan lalu. Sementara Menlu Prancis, Jean-Yves Le Drian mengatakan bahwa pihaknua "khawatir" tentang kemungkinan invasi Rusia terhadap negara bekas Soviet.
Adapun proses aksesi ke UE sendiri diperkirakan akan membutuhkan waktu yang panjang dan melibatkan reformasi skala besar, asalkan negara-negara tersebut memenangkan status kandidat. Selain itu, semua anggota yang ada disebut memiliki hak veto atas penambahan baru.
(wk/tiar)