Survei Kementerian Kesehatan Jepang Menunjukkan 8 Persen Wanita Alami 'Kemiskinan Menstruasi'
Dunia

Sebagian wanita di Jepang kini mengalami kesulitan untuk mendapat produk sanitasi saat datang bulan karena faktor ekonomi. Hal itu berdasarkan hasil survei dari Kementerian Kesehatan.

WowKeren - Sebuah survei tentang "kemiskinan menstruasi" oleh Kementerian Kesehatan menemukan bahwa 8 persen wanita di Jepang mengalami kesulitan memperoleh produk pembalut menstruasi karena alasan keuangan sejak pandemi COVID-19 melanda. Hasil survei menunjukkan bahwa masalah itu telah mempengaruhi gadis-gadis muda dan perempuan dengan sangat keras

Melansir Asahi Shimbun, Kementerian mengatakan bahwa ada sekitar 3 ribu wanita berusia 18 hingga 49 tahun menanggapi survei online yang dilakukan pada 3-6 Februari tersebut. Untuk pertanyaan apakah mereka telah berjuang untuk membeli atau mendapatkan akses ke produk sanitasi sejak Februari 2020. Ketika krisis kesehatan masyarakat dimulai, 8,1 persen responden mengatakan "Sering" atau "Kadang-kadang".

Persentasenya lebih besar di antara responden berusia 29 tahun ke bawah, atau mereka yang pendapatan tahunan rumah tangganya di bawah 3 juta yen ($24.000). Banyak responden menyebutkan kesulitan mendapatkan produk sanitasi karena "Penghasilan kecil (37,7 persen)" atau "Tidak punya cukup uang untuk diri saya sendiri (28,7 persen)".

Sementara itu, beberapa otoritas setempat diketahui juga telah memberikan produk sanitasi kepada penduduk secara gratis. Namun, 49,6 persen responden yang berjuang untuk membeli atau mendapatkan akses ke produk sanitasi mengatakan mereka tidak tahu apakah pemerintah daerah mereka memiliki kebijakan yang sama.


"Kami ingin mempromosikan pemberian gratis produk sanitasi (oleh otoritas lokal) serta menyebarkan kesadaran bahwa tidak menggunakan produk tersebut dengan benar dapat merusak kesehatan seseorang, pungkas seorang pejabat kementerian.

Sementara itu, beberapa perempuan yang mengetahui bahwa produk saniter dibagikan secara gratis kepada masyarakat berpenghasilan rendah mengaku tidak menggunakan bantuan tersebut. Mereka karena malu untuk meminta atau takut akan tanggapan orang lain.

Kesulitan akses terhadap produk sanitasi selama menstruasi tentu memiliki efek besar bagi kinerja aktivitas sehari-hari. Responden yang mengaku kesulitan membeli produk sanitasi selama masa pandemi mengatakan, masalah tersebut telah mempengaruhi kehidupan sosial dan pribadi mereka. Termasuk membuat mereka sulit berkonsentrasi di tempat kerja atau sekolah.

Membatasi kemampuan mereka untuk melakukan pekerjaan rumah dan membuat mereka kesulitan. Selain itu, banyak wanita yang berjuang untuk mendapatkan produk menstruasi mengatakan bahwa mereka menderita kecemasan atau gangguan mood.

(wk/amel)

Follow Berita WowKeren.com di Google News

You can share this post!

Berita Terkait