Kebijakan pembatasan jam malam biasanya diterapkan selama pandemi COVID-19 guna menekan angka kasus penyebarannya. Namun hal ini berbeda dengan di Roma.
- Tiara Yola Ade Ramadhanti
- Rabu, 04 Mei 2022 - 14:55 WIB
WowKeren - Roma diketahui memberlakukan jam malam nbagi penduduknya. Adapun aturan ini mulai berlangsung pada Selasa (3/5). Hal ini dilakukan akibat dari semakin meingkatnya serangan dari babi hutan, menurut penduduk di beberapa lingkungab.
Sementara itu, pemimpin masyarakat di bagian utara Ibu Kota Italia memperingatkan orang-orang agar tidak berkeliaran di jalan larut malam karena beberapa serangan baru-baru ini oleh hewan liar yang agresif.
Di samping itu, seorang pria di daerah Balduina baru-baru ini diselamatkan dari kawanan babi hutan setelah anjingnya turun tangan. Ia bahkan menyebutnya sebagai "keajaiban" lantaran sang anjing bisa menyelamatkannya, katanya kepada surat kabar harian La Republica.
"Kami menyarankan Anda, jangan bawa anjing Anda keluar untuk melakukan bisnisnya setelah pukul 20.30," Gianluca Sabino, yang tinggal di lingkungan itu, mengatakan kepada publikasi yang sama, dikutip pada Rabu (4/5).
Hewan yang melakukan serangan itu biasa juga dikenal sebagai babi hutan, babi hutan biasa, dan babi hutan Eurasia, di mana, hewan ini dapat tumbuh hingga 220 pon dan sekarang merupakan salah satu mamalia paling tersebar luas di dunia. Meskipun mereka memiliki taring yang tajam, mereka biasanya tidak agresif, namun bisa juga berbahaya bagi manusia.
Sebagai informasi, babi hutan sendiri telah menjadi masalah konstan di Roma, pasalnya mengobrak-abrik daerah-daerah dalam kawanan hingga 30 hewan. Selain itu, diperkirakan bahwa Italia memiliki lebih dari 2 juta babi hutan, dengan hingga 20.000 tinggal di Roma.
Sebelumnya, pada September lalu, Wali Kota Roma diketahui mengajukan gugatan pidana terhadap pemerintah daerah, di mana kota itu berada dalam upaya untuk menghentikan babi hutan berkeliaran dengan bebas di daerah tersebut.
Sedangkan Wali Kota Virginia, Raggi menggugat pemerintah daerah Lazio, dengan mengatakan bahwa daerah tersebut telah gagal mengelola hewan secara efektif. Di samping itu, selama pandemi COVID-19 berlangsung, jumlah babi hutan yang berkeliaran di negara itu disebut naik 1,5 persen menjadi sekitar 2,3 juta ekor.
Atas hal tersebut, para pejabat mengatakan hewan-hewan itu menyebabkan rata-rata 10.000 kecelakaan di jalan raya setiap tahun di Italia. Sedangkan untuk daging babi hutan sendiri merupakan makanan pokok masakan Tuscan dan Umbria.
(wk/tiar)