Eks PM Sri Lanka dan Sekutunya Dicekal ke Luar Negeri di Tengah Krisis yang Berkecamuk
Unsplash/Mariana Proença
Dunia

Hakim di kota utama Kolombo memerintahkan polisi untuk menyelidiki serangan massa sebelumnya terhadap pengunjuk rasa damai, yang menyebabkan pembalasan.

WowKeren - Krisis ekonomi di Sri Lanka telah melahirkan gelombang protes yang berkepanjangan yang tak jarang diwarnai dengan aksi kekerasan. Pengadilan Sri Lanka pada Kamis (12/5) telah melarang mantan perdana menteri Mahinda Rajapaksa untuk meninggalkan negara itu.

Bukan hanya Mahinda, tetapi juga putra politisi Namal, dan 15 sekutunya. Larangan itu terjadi sebagai buntut dari kekerasan terhadap demonstran anti-pemerintah.

Hakim di kota utama Kolombo memerintahkan polisi untuk menyelidiki serangan massa pada hari Senin sebelumnya terhadap pengunjuk rasa damai, yang menyebabkan pembalasan. Sembilan orang tewas akibat kekerasan dan kehancuran yang meluas terjadi di sejumlah kota.

Seorang pejabat pengadilan mengatakan kepada kantor berita AFP bahwa sebuah petisi ke pengadilan juga meminta surat perintah penangkapan untuk Rajapaksa dan rekan-rekannya. "Tetapi hakim menolaknya karena polisi tetap memiliki kekuatan untuk menahan tersangka," kata pejabat itu.


Menurut kesaksian para korban kekerasan, Rajapaksa dan pembantu-pembantu utama telah mengangkut sekitar 3.000 pendukung mereka ke ibu kota. Mereka menghasut pendukung mereka untuk menyerang para pengunjuk rasa yang damai.

Massa pendukung berhamburan keluar dari kediamannya dan menyerang pengunjuk rasa anti-pemerintah. Sebanyak 225 orang dirawat di rumah sakit setelah serangan itu, di antaranya ada biksu Buddha dan pendeta Katolik.

Situasi pun memanas ketika pembalasan menyebar ke seluruh negeri. Puluhan rumah loyalis Rajapaksa dibakar. Rajapaksa mengundurkan diri dan harus dievakuasi dari rumahnya. Namal, yang merupakan mantan menteri sekaligus putranya, mengatakan kepada AFP bahwa keluarga itu tidak berniat meninggalkan Sri Lanka.

Sementara itu, tak lama setelah perdana menteri mengundurkan diri pada hari Senin, ratusan orang menyerang sekelompok kecil petugas polisi yang menjaga vila sederhananya. Mereka merusak sebuah tempat yang berisi memorabilia keluarga dan piala olahraga.

(wk/zodi)


You can share this post!


Related Posts