Shireen Abu Akleh merupakan seorang jurnalis veteran yang kerap meliput kehidupan di bawah pemerintahan Israel. Ia dihormati oleh orang-orang Palestina sebagai pahlawan lokal.
- Bertilia Puteri
- Sabtu, 14 Mei 2022 - 09:23 WIB
WowKeren - Jurnalis dari media Al Jazeera, Shireen Abu Akleh, ditembak mati oleh tentara Israel pada Rabu (11/5). Pada Jumat (13/5), polisi anti huru-hara Israel mendorong dan memukuli pengusung jenazah di pemakaman Shireen hingga membuat mereka sempat menjatuhkan peti mati.
Shireen merupakan seorang jurnalis veteran yang kerap meliput kehidupan di bawah pemerintahan Israel. Ia dihormati oleh orang-orang Palestina sebagai pahlawan lokal.
Ribuan menghadiri pemakaman Shireen dan banyak yang mengibarkan bendera Palestina sembari meneriakkan "Palestina! Palestina!". Pemakaman Shireen diyakini sebagai pemakaman Palestina terbesar di Yerusalem sejak tokoh pemimpin Faisal Husseini meninggal pada tahun 2001 lalu.
Menjelang pemakaman Shireen, kerumunan besar berkumpul untuk mengawal peti matinya dari rumah sakit Yerusalem timur ke sebuah gereja Katolik di Old City. Banyak pelayat yang memegang bendera Palestina dan berteriak, "Kami mengorbankan jiwa dan darah kami untukmu, Shireen."
Tak lama kemudian, polisi Israel bergerak masuk dan mendorong hingga memukuli pelayat. Polisi anti huru-hara Israel mendekat dan menabrak pengusung jenazah, membuat seorang pria kehilangan kendali dan menjatuhkan peti mati Shireen yang diusungnya. Polisi juga merobek bendera Palestina dari tangan orang-orang dan menembakkan granat kejut untuk membubarkan massa.
Koresponden Al Jazeera, Givara Budeiri, menyebut tindakan keras polisi tersebut seperti membunuh Shireen kembali. "Sepertinya suara Shireen tidak senyap," ujarnya dalam sebuah laporan.
Sementara itu, Tony selaku saudara laki-laki Shireen mengatakan kejadian tersebut membuktikan bahwa laporan dan kata-kata jujur saudarinya telah memiliki dampak yang kuat.
Di sisi lain, polisi Israel telah memberikan penjelasannya terkait kejadian di pemakaman Shireen. Menurut mereka, kerumunan di rumah sakit meneriakkan "hasutan nasionalis" dan mengabaikan seruan polisi untuk berhenti hingga melempari batu ke arah mereka. "Polisi dipaksa untuk bertindak," ujar pihak kepolisian Israel.
Polisi Israel juga mengeluarkan pernyataan kedua yang mengklaim bahwa mereka telah mengkoordinasikan rencana dengan keluarga untuk menempatkan peti mati Shireen di dalam kendaraan. Namun sekelompok orang disebut "mengancam pengemudi mobil jenazah dan kemudian membawa peti mati dalam sebuah prosesi yang tak terencana".
Pihak kepolisian disebut terpaksa mengintervensi agar "pemakaman dapat berjalan sesuai rencana seperti keinginan keluarga". Adapun klaim polisi Israel tersebut tidak bisa segera diverifikasi. Hanya saja, saudara laki-laki Shireen sempat mengatakan bahwa rencana awalnya, peti mati akan dipindahkan dari rumah sakit ke gereja dengan mobil jenazah, dan baru akan diusung melalui jalan-jalan ke tempat pemakaman.
(wk/Bert)