Bocah 10 Tahun Cekik Diri Sendiri Hingga Tewas Saat Ikut 'Blackout Challenge', Sang Ibu Gugat TikTok
Pixabay/Ilustrasi
Dunia

Bocah bernama Nylah Anderson tersebut dilaporkan meninggal pada bulan Desember 2021 lalu, dan kini sang ibu, Tawainna Anderson, mengajukan gugatan terhadap TikTok atas kematiannya.

WowKeren - Seorang bocah berusia 10 tahun asal Amerika Serikat (AS) meninggal dunia usai tak sengaja mencekik dirinya sendiri kala berpartisipasi dalam "Blackout Challenge" yang viral di TikTok. Bocah bernama Nylah Anderson tersebut dilaporkan meninggal pada bulan Desember 2021 lalu, dan kini sang ibu, Tawainna Anderson, mengajukan gugatan terhadap TikTok atas kematiannya.

Sebagai informasi, Anderson menemukan Nylah dalam kondisi tak sadarkan diri di lemarinya pada 7 Desember 2021 lalu. Ia diberi CPR dan dilarikan ke rumah sakit oleh petugas tanggap darurat hingga akhirnya harus ditempatkan di ICU. Nylah dilaporkan meninggal lima hari kemudian.

Anderson telah mengajukan gugatan kematian yang salah terhadap TikTok karena mengizinkan Blackout Challenge dipopulerkan kembali di platformnya. Sebagai informasi, para peserta Blackout Challenge mencekik diri mereka sendiri hingga pingsan.

Aksi itu disebut-sebut merupakan "permainan" yang berasal dari awal tahun 1900-an. Gugatan Anderson menuduh bahwa TikTok sangat tidak bertanggungjawab dan lalai jika mengizinkan video-video tersebut menyebar luas secara online.

"Tragisnya, Nylah Anderson adalah yang terbaru dalam daftar anak-anak yang terbunuh akibat aplikasi dan algoritma Tergugat TikTok," demikian kutipan gugatan Anderson, dilansir VICE News pada Senin (16/5).



Adapun Anderson melayangkan gugatan kepada TikTok dan perusahaan induknya, ByteDance, Inc., di pengadilan distrik AS pekan lalu. Masih belum diketahui secara pasti jumlah anak muda yang meninggal usai berpartisipasi dalam Blackout Challenge di TikTok. Namun menurut laporan tahun 2010 oleh Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC), setidaknya ada 82 anak-anak dan remaja berusia 6-19 tahun yang meninggal usai melakukan tantangan tersebut.

Menurut gugatan tersebut, setidaknya ada empat anak di seluruh dunia yang dilaporkan meninggal usai melakukan tantangan tersebut tahun lalu. Sejak serentetan kematian anak tahun lalu, TikTok tidak lagi memungkinkan pengguna untuk menemukan konten yang terkait dengan tantangan itu di bawah tagar #Blackout.

Gugatan Anderson menyatakan bahwa algoritma TikTok yang dimaksudkan untuk menampilkan konten yang ingin dilihat pengguna berdasarkan demografi mereka, menentukan bahwa tantangan tersebut akan menarik minat Nylah dan membagikan video di halaman "Just For You" miliknya. "Nylah adalah anak saya, tetapi dia bisa menjadi putra atau putri siapa pun yang tertarik dengan apa yang mereka lihat di media sosial," tutur Anderson.

Sang ibu meminta kompensasi moneter atas kehilangannya serta hak bagi siapa saja yang kehilangan orang yang dicintai karena tantangan semacam ini, kemampuan untuk menuntut juga. Gugatan itu juga menyebutkan sejumlah tantangan viral berbahaya yang telah muncul di layanan media sosial dalam beberapa tahun terakhir, salah satunya Fire Challenge di mana pengguna menyiram diri dengan cairan yang mudah terbakar dan membakar diri mereka sendiri.

Di sisi lain, TikTok mengatakan kepada NBC News bahwa pihaknya tidak bertanggung jawab atas terciptanya tren mematikan tersebut. "Kami tetap waspada dalam komitmen kami terhadap keselamatan pengguna dan akan segera menghapus konten terkait jika ditemukan. Simpati terdalam kami sampaikan kepada keluarga atas kehilangan tragis mereka," demikian pernyataan TikTok.

(wk/Bert)


You can share this post!


Related Posts