Oxford Ungkap Marcos Jr. Bukan Lulusan Kampusnya, Desak Untuk Berhenti Menggemborkannya
AP Photo/Rouelle Umali
Dunia

Di tengah euforia kemenangan Marcos Jr. akan Pemilu Filipina 2022, muncul seruan untuk berhenti menggemborkan terkait dengan lulusan Oxford. Oxford sendiri telah mengkonfirmasi hal tersebut.

WowKeren - Kemenangan anak dari mantan Presiden Filipina yang dikenal akan kediktatorannya, Ferdinand Marcos, yakni Ferdinand "Bongbong" Marcos Jr. atas Pemilu 2022 di negara tersebut hingga kini masih menjadi perbincangan publik. Namun di tengah euforia kemenangan tersebut, Marcos Jr. menghadapai seruan untuk berhenti salah mengartikan keadaan studinya di Oxford.

Pihak Universitas Oxford diketahui telah mengkonfirmasi bahwa Marcos Jr. tidak menyelesaikan gelar BA dalam bidang Filsafat, Politik, dan Ekonomi setelah mendaftar pada tahun 1975 silam. Hal ini disampaikan pihak kampus menanggapi permintaan kebebasan informasi yang diajukan oleh pendukung Filipinan yang berbasis di Inggris dari saingan terdekat Marcos Jr. dalam Pemilu 2022.

"Menurut catatan kami, dia (Marcos Jr.) tidak menyelesaikan gelarnya, tetapi dianugerahi diploma khusus dalam studi sosial pada tahun 1978," bunyi pernyataan Oxford, dikutip dari The Guardian, Selasa (17/5).

Marcos Jr. yang juga dikenal sebagai "Bongbong" sebelumnya diketahui telah mengklaim dalam sebuah wawancara, di mana ia mengaku bahwa Oxford memberinya gelar sarjana. Sementara itu, Juru Bicara resminya mengatakan bahwa politisi dan timnya "mendukung konfirmasi gelar yang dikeluarkan oleh Universitas Oxford."



"Dia menyelesaikan studi sarjana di Universitas Oxford dan lulus dengan diploma khusus dalam studi sosial," ujar Jubir Marcos Jr. dalam web resminya.

Sementara itu, seorang pendukung Filipina yang berbasis di Inggris, dari saingan Marcos Jr. yakni Leni Robredo yang mengajukan permintaan FOI, menyampaikan hal terkait klaim lulus dari Oxford. "Dia (Marcos Jr.) harus berhenti salah mengartikan diploma khususnya, yang jelas-jelas bukan gelar, jelas dia tidak menyelesaikan studi sarjana," ujar pendukung tersebut.

"Dalam skema besar, ini mungkin tidak tampak begitu penting, karena konstitusi kita menyatakan bahwa calon presiden hanya harus melek huruf dan menjadi warga negara pada usia tertentu," lanjut pendukung yang tidak disebutkan identitasnya. "Tapi itu hal yang besar di Filipina jika Anda telah belajar di luar negeri dan orang-orang terkesan dengan itu."

Pendukung Filipina yang berbasis di Inggris itu pun mengatakan bahwa apa yang dikatakan oleh seseorang merupakan cerminan kepribadian dan karakternya. "Ini juga merupakan cerminan dari pola disinformasi yang telah ditunjukkan oleh banyak peneliti baru-baru ini," tandasnya.

(wk/tiar)


You can share this post!


Related Posts