Siswi di Thailand Bunuh Diri Usai Ditekan Guru Untuk Keluar dari Sekolah, Teman Ungkap Fakta Miris
Unsplash/Arisa Chattasa
Dunia

Siswi SMP di Thailand yang masih berusia 14 tahun memutuskan mengakhiri hidupnya sendiri dengan tragis usai dikeluarkan dari sekolah. Teman-teman siswi itu pun mengungkap kisah pilu kehidupan sang gadis.

WowKeren - Nasib seorang siswi berusia 14 tahun di Thailand yang berjuang untuk bisa tetap bersekolah di tengah masalah ekonomi dan keluarga kini berakhir tragis. Gadis remaja itu nekat mengakhiri hidupnya sendiri setelah dikeluarkan dari sekolah diduga karena tekanan dari salah satu guru.

Melansir The Thaiger, media Thailand melaporkan bahwa seorang siswi berusia 14 tahun memutuskan untuk gantung diri di sebuah rumah di provinsi Songkhla pada Jumat (13/5) lalu. Teman-temannya mengatakan kepada polisi bahwa gadis remaja itu memiliki masalah dengan keluarga dan sekolahnya. Teman-teman juga mengklaim bahwa seorang guru “menekan gadis itu” dan memaksanya untuk meninggalkan sekolah.

Menurut temannya, gadis bernama Bonus itu bersekolah di kelas 9 Sekolah Satri Phatthalung di provinsi Pattalung. Dia telah tinggal bersama ibunya di Songkhla dan tidak dapat melakukan perjalanan ke Pattalung karena tidak ada yang bisa membawanya ke terminal bus. Jadi dia melewatkan kelas pertama semester pada Senin (9/5).



Teman Bonus mengatakan bahwa guru itu tidak mengerti alasan ketidakhadirannya dan mengatakan bahwa Bonus harus meninggalkan sekolah karena “dia adalah masalah bagi guru”. Teman-teman juga memberi tahu polisi bahwa Bonus terus-menerus bertengkar dengan ibunya karena dia tidak punya uang untuk belajar.

Polisi memeriksa beberapa pesan antara Bonus dan teman-temannya. Dia mengatakan kepada teman-temannya bahwa dia tidak tahu harus berbuat apa dan mengatakan bahwa seorang guru mengusirnya karena dia tidak memiliki wali yang bisa merawatnya di Pattalung, dan tidak punya uang untuk membiayai hidupnya sendiri. Bonus juga sempat mengatakan kepada teman-temannya bahwa dia ingin bunuh diri dan meminta satu teman tertentu untuk menjelaskan cerita itu kepada orang lain setelah dia meninggal.

Direktur Sekolah Satri Phatthalung, Malee Kaewlaiad, berbicara kepada media Thailand mengklaim bahwa sekolah sudah siap untuk membantu Bonus. Namun insiden itu mungkin terjadi karena “kesalahpahaman dan miskomunikasi” antara Bonus dan guru yang terlibat.

Sementara itu, guru yang terlibat mengklaim dia tidak bermaksud untuk mengecilkan hati muridnya dan mencoba membantunya dalam segala hal. Guru itu mengatakan kepada polisi bahwa dia telah meminta Bonus untuk membawa ibunya ke sekolah, dan agar dia tinggal di tempat penampungan untuk anak-anak tetapi kemudian mengetahui bahwa Bonus telah mengambil nyawanya.

(wk/amel)


You can share this post!


Related Posts