Singapura Sediakan Skrining Gratis Usai Deteksi Klaster TBC
pixabay.com/Ilustrasi/Nirut Phengjaiwong
Dunia

Kementerian Kesehatan menyatakan bahwa pada dasarnya skrining ini tidak bersifat wajib dan memaksa. Namun, mereka berharap warga mau melakukannya dengan sukarela.

WowKeren - Singapura telah menyediakan pemeriksaan gratis untuk skrining tuberkulosis (TBC) sukarela kepada penduduk saat ini. Kementerian Kesehatan dalam siaran persnya mengatakan bahwa skrining tersebut diambil sebagai langkah tindakan pencegahan setelah klaster tujuh kasus TBC terdeteksi di Blok 2 Jalan Bukit Merah.

Skrining gratis juga akan ditawarkan kepada pemilik kios, pemilik toko, dan karyawannya di lokasi. "Warga, pemilik warung, pemilik toko dan karyawan Blok 2 Jalan Bukit Merah sangat dianjurkan untuk berpartisipasi dalam skrining TBC," kata Kemenkes.

Nantinya, akan ada petugas yang berkeliling mendatangi rumah warga. Pusat skrining yang terletak di Pusat Komite Warga Queenstown Hock San Zone di Blok 3 Jalan Bukit Merah juga akan didirikan untuk mereka yang bekerja di toko dan kios, serta untuk melayani penduduk yang rumahnya tidak cocok untuk melakukan skrining.

Kemenkes menyatakan bahwa pada dasarnya skrining ini tidak bersifat wajib dan memaksa. Namun, mereka berharap warga mau melakukannya dengan sukarela untuk mendeteksi sedini mungkin potensi TBC dan mencegah penularan.



"Meskipun skrining tidak wajib, Kemenkes sangat mendorong warga untuk diskrining untuk menentukan apakah mereka memiliki penyakit TBC atau infeksi (yang tidak menular)," kata Kemenkes. "Orang dengan hasil skrining positif akan ditawarkan saran dan tindak lanjut yang sesuai."

Sebagaimana diketahui, pada tanggal 2 Maret 2022, Kemenkes mendapat informasi adanya tujuh kasus TB yang melibatkan warga Blok 2 Jalan Bukit Merah. Mereka didiagnosis antara Februari 2021 dan Maret 2022. Mereka didiagnosis antara Februari 2021 dan Maret 2022.

"Karena individu yang didiagnosis dengan TB akan dengan cepat menjadi tidak menular setelah pengobatan dimulai," kata Kementerian Kesehatan. "Kasus tersebut bukan merupakan risiko kesehatan masyarakat yang berkelanjutan."

"Analisis dan tautan genetik, yang dibuat pada April 2022, mengungkapkan bahwa ketujuh kasus memiliki susunan genetik yang serupa," lanjut Kemenkes. "Ini menunjukkan bahwa kasus-kasus ini terkait dengan penyebaran dari satu atau lebih sumber umum."

(wk/zodi)


You can share this post!


Related Posts