WHO Sebut Tak Diperlukan Vaksinasi Massal Cacar Monyet, Asal Lakukan Hal ini
AFP
Dunia
Wabah Cacar Monyet

Wabah cacar monyet tampaknya semakin menyebar di banyak negara dunia. Hal ini lantas memicu kekhawatiran, dan mendorong negara yang telah mendeteksi cacar monyet untuk menciptakan vaksin.

WowKeren - Belakangan ini, dunia tengah menyoroti wabah cacar monyet. Pasalnya, penyakit yang biasanya ditemukan di negara Afrika, kini telah terdeteksi di luar negara tersebut seperti Eropa dan Amerika.

Meski demikian, tampaknya wabah tersebut bukan lah suatu ancaman seperti pandemi COVID-19. Hal ini dapat dilihat dari pernyataan Badan Kesehatan Dunia (WHO) yang menyebut bahwa tidak percaya wabah cacar monyet di luar Afrika memerlukan vaksinasi massal.

Pasalnya, menurut WHO penyebaran wabah cacar monyet bisa dicegah dengan tindakan seperti menjaga kebersihan yang baik dan perilaku seksual yang aman. Seorang pejabat senior WHO menilai hal ini akan membantu mengendalikan penyebarannya.

Di samping itu, Richard Pebody yang memimpin tim patogen ancaman tinggi di WHO Eropa juga mengatakan kepada Reuters, bahwa pasokan langsung vaksin dan antivirus relatif terbatas. Pernyataannya ini muncul ketika Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit AS (CDC) mengatakan sedang dalam proses merilis beberapa dosis vaksin Jynneos untuk digunakan dalam kasus cacar monyet.

Sementara itu, pada Senin (23/5), pemerintah Jerman diketahui mengatakan bahwa mereka sedang menilai pilihan untuk vaksinasi, sementara Inggris telah menawarkannya kepada beberapa petugas kesehatan. Kemudian, otoritas kesehatan masyarakat di Eropa dan Amerika Utara sedang menyelidiki lebih dari 100 kasus yang dicurigai dan dikonfirmasi dari infeksi virus dalam wabah virus terburuk di luar Afrika, di mana ia endemik.

Lebih lanjut, Pebody mengatakan bahwa langkah-langkah utama untuk mengendalikan wabah cacar monyet adalah kontak dan isolasi. Ia mencatat bahwa penyakit itu bukan virus yang menyebar dengan sangat mudah, juga sejauh ini tidak menyebabkan penyakit serius.


Di samping itu, Pebody mengungkapkan bahwa vaksin yang digunakan untuk memerangi cacar monyet dapat memiliki beberapa efek samping yang signifikan. Hingga saat ini, disebut belum jelas apa yang mendorong wabah tersebut muncul di luar negara Afrika.

Para ilmuwan pun saat ini disebut tengah mencoba memahami asal usul dan apakah ada sesuatu tentang virus yang telah berubah. Namun, menurut seorang eksekutif senior di badan PBB tersebut sampai saat ini, tidak ada bukti yang menunjukkan bahwa virus tersebut telah bermutasi.

Dalam keterangan terpisah, Pebody mengatakan memang banyak kasus cacar monyet yang ditemukan berkaitan dengan pria yang berhubungan seks dengan pria, namun tidak semuanya. Menurut WHO, hal itu mungkin karena demografi ini cenderung mencari nasihat medis atau mengakses pemeriksaan kesehatan seksual lebih mudah.

Di sisi lain, kata Pebody, sebagian besar kasus yang dikonfirmasi belum dikaitkan dengan perjalanan ke Afrika, yang menunjukkan mungkin ada sejumlah besar kasus yang tidak terdeteksi. Kemudian beberapa otoritas kesehatan menduga ada beberapa tingkat penyebaran komunitas.

"Jadi kita hanya melihat ... puncak gunung es," ujar Pebody, dikutip pada Selasa (24/5). Mengingat laju wabah, dan kurangnya kejelasan tentang apa yang mendorongnya, tentu memicu kekhawatiran bahwa acara dan pesta besar musim panas ini dapat memperburuk keadaan.

"Saya tidak mengatakan kepada orang-orang yang tidak bersenang-senang, jangan pergi menghadiri acara-acara ini," jelas Pebody. "Ini lebih tentang apa yang orang lakukan di pesta-pesta yang penting. Jadi ini tentang perilaku seksual yang aman, kebersihan yang baik, mencuci tangan secara teratur semua hal ini akan membantu membatasi penularan virus ini."

(wk/tiar)


You can share this post!

Related Posts