Sebelumnya, Kemenkes mencatat ada 16 kasus yang diduga merupakan hepatitis akut misterius. Kini, Dinas Kesehatan Provinsi Banten melaporkan kasus pertama suspek hepatitis akut misterius.
- Tiara Yola Ade Ramadhanti
- Rabu, 25 Mei 2022 - 12:20 WIB
WowKeren - Kasus hepatitis akut misterius hingga saat ini masih menjadi fokus Indonesia agar tidak semakin menyebar luas. Sejauh ini, Kementerian Kesehatan (Kemenkes) telah mencatat 16 kasus hepatitis akut misterius pada anak per Senin (23/5).
Terbaru, Dinas Kesehatan Provinsi Banten mengkonfirmasi adanya satu pasien anak yang didiagnosis sebagai kasus suspek hepatitis akut misterius. Kasus ini diketahui ditemukan oleh RS Mandaya Kota Tangerang.
"Pasien usia 3 tahun beralamat domisili di DKI ditemukan RS Mandaya dengan diagnosa suspek hepatitis akut," ujar Kadinkes Ati Pramudji Hastuti saat dikonfirmasi di Serang, Rabu (25/5).
Atas temuan kasus dugaan hepatitis akut misterius tersebut, Dinkes Banten, DKI dan Kota Tangerang, serta Kemenkes dan pihak rumah sakit lantas membahasnya pada Selasa (24/5) kemarin, dan dilanjutkan pada Rabu (25/5) hari ini. Sementara kondisi pasien anak itu sendiri disebut masih menunjukkan gejala ringan.
Ati mengatakan bahwa kemungkinan pasien anak itu akan dilakukan rawat jalan selama 2 hari ke depan. Kemudian pemeriksaan lanjutan, khususnya pemeriksaan hepatitis E, akan dilakukan di Litbangkes. "Rencananya kasus ini masih akan dibahas bersama beberapa tim ahli," terang Ati.
Sebagai informasi, secara kumulatif, Kemenkes saat ini mencatat ada 35 kasus pasien gejala hepatitis akut. Adapun kasus ini tersebar di Sumatera Barat hingga DKI Jakarta.
Sementara terkait penyebab dari hepatitis akut misterius itu sendiri masih belum diketahui pasti. Peneliti bahkan menyebut banyak yang tidak masuk akal.
Sejauh ini, para peniliti dan pakar juga masih terus menyelidiki dan mendalami kasus hepatitis akut misterius. Tak sedikit dari mereka yang mengaku bingung asal muasal penyakit tersebut.
Menurut para peneliti dan pakar, sejauh ini, bukti terbaik yang tersedia menunjukkan penyakit perut cukup umum dan tidak diketahui menyebabkan masalah hati pada anak-anak sehat. Virus itu sendiri terdeteksi dalam darah anak-anak yang terkena penyakit tersebut, tetapi anehnya virus tidak ditemukan di hati mereka yang sakit.
(wk/tiar)