Thailand Kembangkan Utopia Bawah Laut dari Rig Minyak yang Dinonaktifkan
Unsplash/Maria Lupan
Dunia

Departemen Sumber Daya Alam dan Lingkungan Thailand saat ini tengah mengembangkan sebuah utopia ekosistem laut dari rig minyak dan gas yang dinonaktifkan.

WowKeren - Utopia bawah air tipe Aquaman saat ini sedang dikembangkan di dekat pulau Koh Pha Ngan di provinsi Surat Thani, Thailand. Kawasan itu dikembangkan dari kelebihan rig minyak dan gas yang dinonaktifkan.

Departemen Sumber Daya Alam dan Lingkungan Thailand mengungkapkan rencana sedang berjalan dengan baik untuk memanfaatkan rig minyak yang dinonaktifkan untuk mengembangkan tujuan menyelam baru bagi wisatawan. Terletak sekitar 7,5 mil laut timur laut pulau Koh Pha Ngan.

Melansir The Thaiger, ada 3 manfaat rig baja yang diubah menjadi terumbu karang buatan untuk membentuk bagian dari ekosistem laut. Di antaranya untuk menarik penggemar menyelam ke daerah tersebut, meningkatkan lingkungan untuk spesies laut, dan mendukung industri perikanan.

Sementara itu, Menteri Sumber Daya Alam dan Lingkungan Thailand, Varawut Silpa-archa mengatakan bahwa dirinya senang dengan pengembangan proyek yang dilakukan bersama oleh Chevron yang berbasis di AS dan Universitas Chulalongkorn itu. Dimana telah menginvestasikan hampir 35 juta baht ke dalam perusahaan, dan Departemen Sumber Daya Kelautan dan Pesisir, yang dimulai pada April 2019.


Varawut percaya bahwa struktur logam akan membantu membangun kawasan wisata terumbu karang baru, menarik operator wisata selam dan penyelam. Dan jika berhasil, kawasan terumbu karang buatan dapat diperluas.

Supichai Tangjaitrong, direktur pelaksana Chula Unisearch di bawah Universitas Chulalongkorn, mengatakan ketika terumbu karang buatan tumbuh, mereka menarik ikan dan sejumlah spesies laut lainnya. Ia menambahkan, saat ini lokasi tersebut banyak menarik ikan dan terumbu karang membutuhkan waktu untuk tumbuh agar cocok sebagai lokasi penyelaman baru.

Sejak proyek berjalan, kepadatan populasi ikan meningkat lebih dari dua kali lipat menjadi 215 ikan per 100 meter persegi, naik dari 97. Sementara varietas meningkat menjadi 47 spesies, naik dari 15.

Supichai mengatakan organisme kecil yang menjadi makanan berbagai hewan laut telah ditemukan di lokasi tersebut, sementara nelayan setempat mengungkapkan bahwa beberapa spesies ikan langka telah kembali ke daerah itu setelah lama menghilang, seperti bawal Afrika dan torpedo.

(wk/amel)

Follow Berita WowKeren.com di Google News

You can share this post!

Berita Terkait