Vaksin COVID-19 BUMN Masuki Uji Klinis Fase Ketiga, Diperuntukkan Siapa?
Pixabay
Nasional
Vaksin COVID-19

Tidak kalah dengan negara lain, Indonesia pun juga tengah mengembangkan Vaksin COVID-19 lokal, salah satunya adalah Vaksin BUMN yang kini telah memasuki uji klinis fase ketiga.

WowKeren - Meski kondisi COVID-19 di Indonesia saat ini sudah semakin membaik, namun pandemi masih belum benar-benar berakhir. Maka dari itu, pemerintah hingga kini diketahui masih terus berupaya untuk mengejar target vaksinasi COVID-19.

Badan Usaha Milik Negara atau BUMN saat ini diketahui tengah mengembangkan vaksin COVID-19, yang kini telah memasuki uji klinis fase ketiga. Nantinya, Vaksin COVID-19 BUMN ini akan diprioritaskan untuk anak-anak dan vaksin booster.

Hal tersebut disampaikan oleh Direktur Utama Bio Farma Honesti Basyir. Ia mengatakan bahwa saat ini Indonesia masih kekurangan vaksin anak lantaran banyak vaksin yang mendapatkan lisensi untuk diberikan kepada anak-anak.

"Kami melakukan uji klinis untuk primer vaksin satu dan dua, tapi karena jumlah vaksinasi sudah cukup, besar kemungkinan vaksin ini untuk booster dan anak," tutur Honesti dalam acara "Kick Off Uji Klinis Fase III Vaksin COVID-19 BUMN" di Jakarta, Kamis (9/6).


Honesti membeberkan uji klinis fase ketiga itu akan diberikan kepada 4.050 subjek dengan batasan usia 18 tahun sampai 70 tahun. Apabila uji klinis Vaksin COVID-19 BUMN itu berjalan lancar dan mendapatkan emergency use authorization (EUA) atau izin penggunaan darurat, maka Bio Farma akan mulai memproduksinya pada Juli 2022 nanti.

Honesti pun mengaku pihaknya telah menyiapkan kapasitas produksi yang cukup besar, di mana untuk Vaksin COVID-19 BUMN itu telah disiapkan kapasitas 120 juta dosis per tahun. Sementara Menteri BUMN Erick Thohir mengatakan bahwa pemerintah mendorong transformasi di tubuh perusahaan-perusahaan pelat merah, salah satunya adalah Bio Farma agar bisa lebih kompetitif.

Selain itu, Erick juga ingin transformasi yang dilakukan oleh BUMN bisa membuat Indonesia tidak susah terhadap sains dan industri kesehatan modern agar kesehatan dalam negeri bisa berdaulat. "Pandemi ini akan berulang lagi dan sejarah manusia membuktikan itu," ujar Erick.

"Saya sangat berharap kolaborasi ini terus berjalan karena transformasi kami yang ada di BUMN belum selesai," lanjut Erick. Saat ini, Kementerian BUMN diketahui tengah mendorong terobosan agar kesehatan herbal menjadi alternatif untuk menekan ketergantungan bahan baku obat.

(wk/tiar)

You can share this post!

Rekomendasi Artikel
Berita Terkait