Keji! Orangtua di Sudan Selatan Tega Jual Anak Gadis dan Dinikahkan Paksa Demi Dapatkan Sapi
Dunia

Banyak orangtua di Sudan Selatan yang hingga kini masih memperjualbelikan anak gadisnya demi mendapatkan upah puluhan hingga ratusan sapi. Hal ini tentu saja perbuatan melanggar HAM.

WowKeren - Perbuatan keji terjadi di Sudan Selatan, di mana para gadis muda masih dilelang untuk dinikahkan demi sapi. Hal ini menjadi salah satu tantangan sosial yang diharapkan para aktivis disorot selama kunjungan Paus Fransiskus yang sekarang ditunda.

Melansir The Associated Press harga anak perempuan tersebut ditentukan dalam negosiasi antara ayahnya dan calon suaminya, biasanya 50 sampai 100 ekor sapi, masing-masing bernilai hingga USD1.000 (setara Rp14,8 juta).

Sementara itu, seorang gadis yang dipandang cantik, subur, dan berkedudukan tinggi dapat membawa sebanyak 200 ekor sapi. Bahkan seorang gadis dalam kasus yang dipublikasikan dengan baik beberapa tahun yang lalu dilelang untuk 520 sapi, ditambah mobil.

"Semakin muda gadis itu menikah, semakin banyak keluarga mendapat ternak sebagai imbalannya," ujar Jackline Nasiwa selaku Direktur Eksekutif Pusat Pemerintahan Inklusif, Perdamaian dan Keadilan di ibu kota Sudan Selatan, Juba, dilansir Rabu (22/6). "Mereka menjual anak perempuan mereka agar mereka mendapatkan sesuatu untuk bertahan hidup."

Meski hukum di Sudan Selatan membatasi usia pernikahan yakni 18 tahun ke atas, namun undang-undang ini jarang ditegakkan, terlebih di daerah pedesaan. Padahal, Kemerdekaan Sudan Selatan dari Sudan pada 2011 membawa harapan luas untuk kemakmuran dan perdamaian bagi 12 juta orang di negara itu, tetapi hanya sedikit yang terwujud.

Negara baru itu kini dengan cepat malah terjerumus ke dalam perang saudara selama lima tahun yang berakhir dengan kesepakatan damai yang rapuh pada 2018, tetapi kekerasan antarkomunal yang mematikan terus berlanjut, dan kebanyakan orang tetap terjebak dalam kemiskinan. Kemudian juga adanya guncangan iklim seperti banjir, bersama dengan kenaikan harga pangan yang disebabkan oleh invasi Rusia ke Ukraina, telah memperdalam kelaparan yang meluas.



Menurut PBB, Sudan Selatan memiliki prevalensi pernikahan anak tertinggi kelima di dunia. Di samping itu, PBB menyatakan praktek jual beli anak itu merupakan pelanggaran hak asasi manusia, hambatan serius untuk melek huruf dan penyebab utama kemiskinan yang terus-menerus.

Menurut UNICEF, sekitar sepertiga anak perempuan di negara itu hamil sebelum berusia 15 tahun. Di samping itu, disebutkan ada beberapa gadis Sudan Selatan yang melawan untuk dilelang dan dinikahkan paksa demi mendapatkan keuntungan berupa ratusan ekor sapi.

Salah satunya adalah Nyanachiek Madit, gadis berusia 21 tahun. Ia menceritakan menolak untuk dinikahkan saat ayahnya mengatakan dia akan menikah dengan pria berusia sekitar 50 tahun karena keluarganya tidak mampu menyekolahkannya. Pada saat itu, ia masih berusia 17 tahun.

"Saya menolak. Saya tidak terima menikah karena saya cacat dan pendidikan saya akan menjadi 'kaki' saya nantinya," ujar Nyanachiek. Sebagai informasi, Nyanachiek lahir dengan kelainan bawaan.

Nyanachiek meyakini dan bertekad kuat bahwa pendidikan dan sekolah akan memberinya kehidupan yang lebih baik. Ia pun tak menyalahkan keluarganya melakukan hal tersebut, dan menentang mereka melakukan kekerasan bahkan berniat membunuhnya.

Nyanachiek mengungkapkan bahwa keluarganya tidak memaksanya untuk menikah, tetapi menolak untuk membayar biaya sekolahnya sebagai hukuman lantaran tak mau dinikahkan. Kisahnya ini menarik perhatian ChildBride Solidarity, yang akhirnya menawarkan beasiswa kepadanya. Kini ia pun bersekolah di Ibu Kota Sudan Selatan.

(wk/tiar)


You can share this post!


Related Posts