Gempa Afghanistan Tewaskan 1.000 Orang, Pria Ini Ungkap Kisah Pilu Kehilangan 22 Anggota Keluarga
Dunia

Mohammad Ismail Muawiyah selaku juru bicara komandan militer Taliban di provinsi Paktika mengungkapkan bahwa gempa bumi tersebut telah menewaskan sekitar 1.000 orang dan melukai 1.500 orang.

WowKeren - Gempa magnitudo 6,1 yang menggoncang Afghanistan pada Rabu (22/6) kemarin telah menewaskan sedikitnya 1.000 orang. Pejabat Taliban menyatakan bahwa operasi penyelamatan korban gempa kini sudah hampir selesai.

"Operasi penyelamatan telah selesai, tidak ada yang terjebak di bawah puing-puing," ungkap Mohammad Ismail Muawiyah selaku juru bicara komandan militer Taliban di provinsi Paktika yang paling parah dilanda bencana kepada kantor berita Reuters, Kamis (23/6).

Menurut Muawiyah, gempa bumi tersebut telah menewaskan sekitar 1.000 orang dan melukai 1.500 orang. Lebih dari 3.000 rumah dilaporkan hancur akibat bencana tersebut.

Seorang warga bernama Karim Nyazai harus kehilangan 22 orang anggota keluarganya dalam semalam akibat gempa bumi tersebut. Nyazai tengah bersantai dan menelusuri media sosial Facebook kala ia merasakan gempa sekitar pukul 01.00 di Ibu Kota provinsi Paktika, Sharan.

"Rasanya seperti seluruh dunia runtuh," kata Nyazai dari luar rumah sakit di Sharan saat gempa terjadi. "Kami menghabiskan malam di luar karena kami takut akan kejutan baru. Saya mulai menelepon keluarga saya di distrik Gyan segera tetapi layanan komunikasi tidak berfungsi."



Nyazai terus mencoba menghubungi para kerabat di desa asalnya pasca gempa dan mencari kendaraan yang bisa membawanya ke sana. Akhirnya ia menemukan seorang teman yang meminjamkannya mobil dan mereka pun pergi ke desa tersebut bersama-sama.

"Kaki saya gemetar di jalan. Saya mulai memahami bahwa desa saya bisa hancur ketika saya melihat desa-desa lain di sepanjang jalan runtuh seluruhnya atau sebagian, dengan orang-orang mencoba mengeluarkan anggota keluarga dari reruntuhan memakai tangan dan sekop," ungkapnya.

Ia berhasil sampai ke desanya pada Rabu sekitar pukul 7 pagi. Di sana, Nyazai disambut pemandangan yang memilukan: wanita dan anak-anak berteriak, mayat terbungkus selimut, dan orang-orang dengan panik menggali puing-puing dengan tangan dan sekop untuk mencari tanda-tanda kehidupan.

"Ketika saya sampai di rumah saya, dua kamar telah benar-benar runtuh dan dua lagi rusak tetapi masih berdiri," jelasnya. "Ayah saya sedang mengutip bagian-bagian dari Al-Qur'an, menangis dan menggali ke salah satu kamar di mana saudara-saudara saya sedang tidur. Ada mayat di luar terbungkus selimut. Saya tidak berani melihat wajah-wajah itu. Saya tidak tahu harus mulai dari mana."

Nyazai merupakan anak tertua dari delapan bersaudara. Ia kehilangan tiga saudara laki-lakinya dan satu saudari perempuannya. Total, ia kehilangan 22 anggota keluarga besarnya dalam semalam.

"Mereka meninggal saat tidur," katanya. "Dunia jatuh pada mereka."

(wk/Bert)


You can share this post!


Related Posts