Berakhirnya Masa Kepemimpinan Duterte Tinggalkan Penderitaan Hingga Tutup Situs Berita Rappler
Dunia

Satu hari sebelum masa kepemimpinan Presiden Filipina Rodrigo Duterte berakhir, pihaknya memerintahkan agar situs berita Rappler ditutup. Di samping itu, aturan ketat narkobanya disebut meninggalkan penderitaan.

WowKeren - Masa kepemimpinan Presiden Filipina Rodrigo Duterte akan berakhir, dan digantikan oleh Ferdinand Marcos Jr. Akan tetapi, berakhirnya masa kepemimpinan Duterte itu disebut meninggalkan penderitaan terkait dengan "pembunuhan" narkoba.

Melansir The Associated Press, Emily Soriano menceritakan bagaimana putranya yang berusia 15 tahun ditembak mati bersama empat teman dan dua warga lainnya saat berpesta di daerah kumuh Filipina enam tahun lalu, dia menangis dalam kesedihan dan kemarahan seperti pembantaian yang terjadi kemarin.

Soriano mengatakan pada sat itu polisi menyimpulkan bahwa pertumpahan darah di sebuah kota kumuh tepi sungai di kota Caloocan di kota metropolitan Manila dipicu oleh perang geng narkoba. Namun Soriano dengan marah menyalahkan empat petugas polisi berpakaian preman dan tindakan keras anti-narkoba brutal yang dilakukan Duterte atas pembunuhan tahun 2016.

"Dia tidak memimpin seperti seorang ayah ke negara. Dia menjadi monster. Kepribadiannya dan kemarahan di wajahnya menakutkan," ujar Soriano tentang Duterte kepada The Associated Press, dilansir Rabu (29/6).

Selain itu, terjadinya ribuan pembunuhan di bawah kampanye brutal Duterte melawan obat-obatan terlarang yang belum pernah terjadi sebelumnya dalam skala dan tingkat kematian dalam sejarah Filipina baru-baru ini dan alarm yang dipicunya di seluruh dunia membuat keluarga korban dalam penderitaan.

Namun kini penyelidikan pengadilan kriminal internasional dan sisi biadab dari tindakan Duterte yang disebut warisan sebagai presiden enam tahun bergejolak akan berakhir pada Kamis (30/6).


Tidak hanya itu, satu hari sebelum Duterte meninggalkan kantornya sebagai Presiden Filipina, Komisi Sekuritas dan Bursa Filipina (SEC) diketahui memerintahkan untuk menutup perusahaan berita pemenang Hadiah Nobel Perdamaian Filipina, Rappler, Maria Ressa.

Penutupan kantor berita itu dilakukan dengan tuduhan melanggar aturan kepemilikan asing atas media massa. Meski begitu, Ressa berjanji untuk menjaga situs tersebut agar bisa tetap berjalan.

Sebagaimana diketahui, Ressa telah menjadi kritikus vokal Duterte dan perang narkoba mematikan yang dia luncurkan pada 2016, memicu apa yang dikatakan para pendukung media sebagai serangkaian tuduhan kriminal, penyelidikan, dan serangan online terhadap dia dan Rappler.

Sementara itu, dalam sebuah pernyataan, SEC menegaskan kembali perintah sebelumnya agar Rappler ditutup, dengan mengatakan pihaknya membatalkan "sertifikat pendirian" situs berita karena melanggar "pembatasan konstitusional dan undang-undang tentang kepemilikan asing di media massa".

Menanggapi pernyataan dari SEC, Rappler mengatakan bahwa keputusan itu "secara efektif mengkonfirmasi penutupan" perusahaan dan berjanji untuk mengajukan banding, menggambarkan prosesnya sebagai "sangat tidak teratur". Ressa pun menentang keputusan tersebut dan menegaskan situs berita akan terus beroperasi lantaran mengikuti proses hukum.

"Kami terus bekerja, ini bisnis seperti biasa," tutur Ressa kepada wartawan, dilansir dari Al Jazeera. "Kami hanya bisa berharap yang terbaik di bawah penerus Duterte, Ferdinand Marcos Jr."

(wk/tiar)


You can share this post!

Related Posts