Superbug yang Berpotensi Mematikan Ditemukan di Daging Babi Supermarket Inggris
Unsplash/KG Baek
Dunia

Sebagai informasi, superbug adalah varian dari bakteri enterococci yang dapat menyebabkan infeksi saluran kemih serta luka, dan dalam kasus serius bisa menginfeksi aliran darah, jantung dan otak.

WowKeren - Sebuah penyelidikan terbaru menunjukkan bahwa beberapa daging babi yang dijual di supermarket Inggris telah terinfeksi dengan superbug yang berpotensi menyebabkan kematian. Sebagai informasi, superbug adalah varian dari bakteri enterococci yang dapat menyebabkan infeksi saluran kemih serta luka, dan dalam kasus serius bisa menginfeksi aliran darah, jantung dan otak.

Penyelidikan tersebut menemukan bahwa lebih dari 10 persen sampel produk daging babi, termasuk sendi, daging dan cindang, terinfeksi bakteri yang menunjukkan resistensi terhadap antibiotik. Produk yang terkontaminasi termasuk beberapa daging babi yang dijual dengan label "Red Tractor terjamin" dan produk organik serta terjamin RSPCA.

Bakteri yang ditemukan telah menjadi resisten untuk diobati dengan beberapa jenis antibiotik. Ini berarti, beberapa obat yang biasanya diresepkan dokter tidak akan berpengaruh untuk mengobati penyakit yang disebabkan.

Berdasarkan pengujian baru tersebut, superbug enterococci tampak lebih tersebar luas di daging Inggris daripada yang diperkirakan sebelumnya. Survei pemerintah yang diterbitkan pada tahun 2018 menemukan superbug dalam 1 dari 100 item daging babi dan unggas yang diuji. Namun pengujian terbaru menemukan superbug di 13 dari 103 sampel dan juga mendeteksinya dalam daging organik.


Diketahui, para peneliti membeli 103 sampel daging sapi dari supermarket Yorkshire dan toko online. 22 di antaranya berlabel Red Tractor, 27 berlabel RSPCA, 28 berlabel skema organik, dan 27 tanpa label jaminan. Semua daging babi tersebut berasal dari peternakan Inggris, kecuali untuk produk yang tak memiliki label jaminan.

Kemudian daging-daging tersebut dianalisis untuk akteri enterococci dan 25 sampel positif diuji resistensi antibiotik. Dari sampel yang terinfeksi, ada dua yang mengandung enterococci yang resisten terhadap setidaknya satu antibiotik.

Kemudian dari sampel yang terinfeksi, 13 dinyatakan resisten terhadap antibiotik vankomisin. Lima di antaranya merupakan produk Red Tractor, empat produk tanpa label jaminan, dua produk organik, dan dua berlabel RSPCA.

"Temuan ini menunjukkan bahwa penggunaan antibiotik sama sekali tidak terkendali di beberapa bagian industri daging," jelas profesor emeritus kebijakan pangan, Tim Lang, dilansir The Guardian pada Selasa (5/7). "Membeli makanan apa pun adalah hubungan kepercayaan; tidak ada konsumen yang memiliki spesifikasi sinar-X untuk melihat apa yang ditunjukkan oleh temuan ini. Tidak ada labelnya."

(wk/Bert)


You can share this post!

Related Posts