Perusahaan Fujitsu Ltd dari Jepang membuat sebuah aplikasi untuk peringatan bencana tsunami. Aplikasi itu disebut memungkinkan semua orang untuk melarikan diri dari ancaman bencanatsunami.
- Amelia Nur Fatimah
- Rabu, 13 Juli 2022 - 21:56 WIB
WowKeren - Jepang memang dikenal dengan perkembangan teknologi dan ilmu pengetahuannya yang maju. Perusahaan Fujitsu Ltd kini tengah mengembangkan teknologi aplikasi yang bisa membantu orang-orang mengantisipasi ancaman tsunami. Fujitsu Ltd menggunakan superkomputer Fugaku dan teknologi kecerdasan buatan (AI) untuk mengembangkan aplikasi smartphone yang dapat memberikan hitungan mundur reat time kapan tsunami yang dipicu gempa akan membanjiri area tertentu.
Pada pertengahan Maret, raksasa IT yang berbasis di Tokyo itu menguji aplikasi prediksi banjir selama latihan evakuasi tsunami di daerah pesisir Kawasaki Ward di Kawasaki. Anggota asosiasi lingkungan dan penduduk lain yang telah menginstal aplikasi bergabung dengan latihan. Mereka sering mengintip smartphone mereka saat menuju ke lokasi evakuasi di sekolah menengah pertama.
Aplikasi di layar mereka menunjukkan warna yang berbeda untuk perkiraan waktu kedatangan gelombang dan ketinggian tsunami. Lokasi pengguna smartphone dan peserta lainnya ditampilkan di peta. Itu juga menunjukkan apakah orang-orang tertinggal di zona bahaya.
"Rasanya realistis karena (peta) menunjukkan, misalnya, berapa menit tersisa sampai tsunami mencapai daerah biru,” kata Masayuki Suyama (75) ketua asosiasi lingkungan Fujisaki, melansir Asahi Shimbun.
Fujitsu bekerja sama dengan pemerintah kota Kawasaki untuk pengujian aplikasi. Perusahaan telah berkolaborasi dengan Universitas Tohoku dan Universitas Tokyo dalam teknologi prediksi banjir tsunami menggunakan superkomputer Fugaku dan model AI.
Model AI yang terlatih dapat menghasilkan prediksi banjir pada sistem komputer tersebut dan mengirimkan informasi prakiraan ke ponsel cerdas di setiap area dalam hitungan detik. Selama tahap simulasi banjir, model AI juga menggabungkan data mengenai medan, bangunan, dan kondisi jalan berdasarkan informasi yang diberikan oleh Otoritas Informasi Geospasial Jepang dan entitas lainnya. Sistem ini dapat memberikan prediksi banjir tsunami resolusi tinggi dalam satuan 3 kali 3 meter, kata Fujitsu.
"Kami bertujuan untuk membangun sistem yang memungkinkan semua orang untuk melarikan diri (tsunami),” kata Yusuke Oishi (43) peneliti Fujitsu di tim pengembangan.
Namun, berdasarkan UU Meteorologi, pelaku usaha harus mendapatkan izin pemerintah untuk memberikan informasi prediksi tsunami pada publik luas. Menurut JMA, operator dilarang menyebarkan prediksi banjir ke sejumlah orang yang tidak ditentukan untuk menghindari kebingungan yang disebabkan oleh data yang mungkin bertentangan dengan peringatan yang dikeluarkan oleh badan tersebut.
Kejadian tak terduga dan kesalahan pengukuran selalu menjadi risiko saat terjadi bencana alam. Pengguna aplikasi dapat salah berasumsi bahwa mereka berada di luar bahaya berdasarkan lokasi yang ditampilkan di peta aplikasi.
(wk/amel)