Bos Intelijen Yunani Mengundurkan Diri di Tengah Skandal Penyadapan Ponsel
Pixabay
Dunia

Pengumuman pengunduran diri itu muncul seminggu setelah pemimpin partai oposisi PASOK, Nikos Androulakis, mengajukan pengaduan ke Mahkamah Agung atas 'usaha' penyadapan ponselnya dengan malware Predator.

WowKeren - Kepala dinas intelijen Yunani (EYP), Panagiotis Kontoleon, dilaporkan mengundurkan diri di tengah skandal dugaan penggunaan malware pengawasan. Kontoleon disebut mengajukan pengunduran dirinya "mengikuti tindakan keliru yang ditemukan selama prosedur penyadapan yang sah", dan Perdana Menteri Yunani Kyriakos Mitsotakis telah menerimanya.

Namun Kantor Perdana Menteri tidak merinci prosedur mana yang salah diikuti atau siapa target pengawasan hukum yang dimaksud. Di bawah hukum Yunani, seorang jaksa diharuskan menandatangani pengawasan apa pun.

Adapun kabar pengunduran diri Kontoleon disampaikan kantor PM Mitsotakis pada Jumat (5/8). Pengumuman itu muncul seminggu setelah pemimpin partai oposisi PASOK, Nikos Androulakis, mengajukan pengaduan ke Mahkamah Agung atas "usaha" penyadapan ponselnya dengan malware Predator.

"Beberapa hari yang lalu saya diberitahu oleh Parlemen Eropa bahwa ada upaya untuk menyadap ponsel saya dengan perangkat lunak pengawasan Predator," ujar Androulakis kala meninggalkan pengadilan di Athena pada 26 Juli 2022 lalu.

Diketahui, Parlemen Eropa menyiapkan layanan khusus untuk anggota parlemen untuk memeriksa ponsel mereka terkait perangkat lunak pengawasan ilegal. Layanan pemeriksaan ini diberikan menyusul peretasan menggunakan spyware mirip dengan Predator yang disebut Pegasus .


Software tersebut dapat menyusup ke ponsel untuk mengekstrak data atau mengaktifkan kamera atau mikrofon untuk memata-matai pemiliknya. Androulakis lantas menggunakan layanan pemeriksaan tersebut pada 28 Juni 2022.

"Dari pemeriksaan pertama, tautan mencurigakan yang terkait dengan alat pengawasan Predator telah terdeteksi," demikian pernyataan PASOK.

Sementara itu, dua orang legislator yang tak disebutkan identitasnya berbicara kepada kantor berita Reuters awal pekan ini dan mengungkapkan bahwa Kontoleon telah mengakui bahwa dinasnya telah memata-matai Thanasis Koukakis, seorang jurnalis keuangan yang bekerja untuk jaringan media CNN Yunani. Hal itu diakui Kontoleon dalam komite parlemen pada 29 Juli 2022 lalu.

Di sisi lain, pemerintah Yunani menyatakan bahwa pihak otoritas tidak menggunakan spyware yang diduga digunakan dalam peretasan Koukakis dan tidak melakukan bisnis dengan perusahaan yang menjualnya.

Di sisi lain, Sekretaris Jenderal Kantor Perdana Menteri Yunani, Grigoris Dimitriadis, juga mengajukan pengunduran diri bersama Kontoleon. Kantor Perdana Menteri Yunani tidak memberikan alasan pengunduran diri Dimitriadis.

Namun seorang pejabat pemerintah mengatakan Dimitriadis mengundurkan diri terkait dengan "iklim beracun" yang telah berkembang di sekitarnya. Pejabat itu menyebutkan pengunduran diri Dimitriadis tidak ada hubungannya dengan spyware Predator.

(wk/Bert)

You can share this post!

Related Posts