Puluhan Warga Palestina Tewas Dalam Serangan Israel di Jalur Gaza, Termasuk Belasan Anak-anak
Dunia

Darah, mayat, bagian tubuh hingga jeritan di bawah puing warga Palestina jadi pemandangan di wilayah Jalur Gaza setelah serangan Israel. Puluhan orang ikut tewas dalam rentetan serangan tersebut.

WowKeren - Pertempuran di Jalur Gaza hingga kini masih terus terjadi. Serangan dilakukan oleh pesawat tempur milik Israel. Terbaru, malam teror yang terjadi di Jalur Gaza bagian selatan menewaskan seorang komandan senior gerakan Jihad Islam Palestina (PIJ), Khaled Mansour, bersama dengan banyak warga sipil di sekitarnya.

Menurut petugas medis, 43 orang tewas dalam serangan 3 hari yang diluncurkan Israel, termasuk 15 anak-anak dan empat wanita. Di antara mereka, tujuh orang tewas dalam pemboman Rafah pada hari Sabtu (6/8). Sementara lebih dari 300 warga Palestina lainnya terluka.

Dengan peralatan yang terbatas, kru pertahanan sipil dan penyelamat pun terus melkukan evakuasi jenazah korban tewas dan luka-luka dari bawah reruntuhan kamp pengungsi hingga Minggu (7/8) dini hari. Proses penyelamatan dipersulit oleh gang-gang sempit di kamp karena jarak rumah-rumah beratap asbes yang rapat.

Ashraf al-Qaisi (4) mengatakan dia tidak berpikir dua kali sebelum mengizinkan buldoser menghancurkan seluruh rumahnya demi membantu tim penyelamat menjangkau tetangganya yang terkubur di bawah puing-puing.


“Sangat sulit bagi buldoser untuk mencapai rumah yang ditargetkan, jadi saya membiarkan buldoser menghancurkan seluruh rumah saya untuk menyelamatkan tetangga saya di sebelah,” kata al-Qaisi kepada Al Jazeera.

“Ini adalah malam tersulit dalam hidup saya. Saya sedang duduk di rumah saya bersama istri dan enam anak saya sampai kami tiba-tiba mendengar suara tembakan, dan sebagian dari langit-langit runtuh. Salah satu putra saya terluka. Itu adalah saat-saat yang sulit. Darah, bagian tubuh, jeritan di bawah puing-puing, mayat ditarik keluar dan terluka,” sambungnya.

Meskipun al-Qaisi menganggur dan tidak memiliki penghasilan untuk menghidupi keluarganya, dia mengatakan dia tidak ragu untuk mengizinkan kru penyelamat untuk menghancurkan rumahnya. al-Qaisi juga menyampaikan rasa lelah dan frustrasi atas serangan dan perang yang berkecamuk di Tanah Airnya.

“Saya memberi tahu dunia bahwa cukup sudah. Peperangan, pengeboman, dan pembunuhan yang terjadi pada kita sudah cukup. Kami lelah. Kami benar-benar lelah,” pungkas al-Qaisi sambil menggendong putranya yang terluka, Ahmed.

(wk/amel)

You can share this post!

Related Posts