Qantas tengah menghadapi masalah kekurangan staf. Hal itu turut berdampak pada penerbangan, ketika pada Minggu sebanyak 19 persen penerbangan ditunda dan 5 persen dibatalkan.
- Zodiak Yanuarita
- Selasa, 09 Agustus 2022 - 10:20 WIB
WowKeren - Maskapai penerbangan asal Australia Qantas meminta jajaran eksekutif seniornya untuk mengisi lowongan di antara penanganan bagasinya. Itu terjadi ketika maskapai berupaya mengatasi masalah kekurangan staf, sebagaimana dikonfirmasi pada Senin (8/8).
Maskapai nasional Australia meminta sekitar 100 sukarelawan dari jajaran eksekutifnya untuk bekerja sebagai penangan bagasi selama tiga bulan di tengah kekurangan tenaga kerja. Perusahaan mencari sukarelawan untuk bekerja di bandara Sydney dan Melbourne, yang merupakan dua dari tiga hub utamanya.
Dalam pernyataannya, eksekutif Qantas Colin Hughes mengatakan jika maskapai saat ini sedang mengalami kekurangan tenaga kerja karena sejumlah faktor. Tak hanya karena lonjakan kasus COVID-19 namun juga adanya persaingan tenaga kerja yang ketat.
"Tingginya tingkat flu musim dingin dan lonjakan COVID di seluruh komunitas, ditambah dengan pasar tenaga kerja yang ketat yang sedang berlangsung," katanya. "Membuat sumber daya menjadi tantangan di seluruh industri kami."
Sedangkan persyaratannya adalah staf akan bekerja untuk menyortir dan memindai tas, memuatnya ke dalam pesawat dan mengantarnya berkeliling bandara. Mereka juga harus mampu mengangkat beban hingga 71 pon. Relawan tidak diharapkan untuk menjalankan peran ground handler mereka di atas tanggung jawab mereka yang ada.
Qantas memang diketahui tengah menghadapi masalah kekurangan staf. Hal itu turut berdampak pada penerbangan, ketika pada hari Minggu (7/8) sebanyak 19 persen penerbangan ditunda dan 5 persen dibatalkan.
Bulan sebelumnya, CEO Domestik dan Internasional Qantas Andrew David merinci tantangan yang dihadapi perusahaannya. Memulai industri penerbangan setelah dua tahun ditangguhkan, bukanlah hal yang mudah. "Memulai kembali maskapai penerbangan setelah dua tahun dilarang terbang adalah kompleks dan pasar tenaga kerja penerbangan, seperti banyak lainnya, sangat ketat," tulis David saat itu.
Qantas bukan satu-satunya yang mengalami masalah kurangnya karyawan. Departemen Perhubungan AS baru-baru ini mengusulkan aturan yang lebih ketat untuk maskapai penerbangan dalam menentukan kapan ganti rugi diperlukan yang dipicu oleh meningkatnya keluhan penumpang atas kompensasi penerbangan yang tertunda dan dibatalkan.
(wk/zodi)