Ilmuwan Temukan Virus Langya Baru, Menginfeksi Puluhan Orang di Tiongkok
Dunia

Pandemi COVID-19 belum berakhir, para ilmuwan di Asia menemukan virus Langya baru di Tiongkok. Mereka pun lantas membeberkan karakter virus yang telah menginfeksi puluhan orang tersebut.

WowKeren - Belum selesai dengan COVID-19, kini para ilmuwan di Asia diketahui telah mengidentifikasi virus baru yang bisa menyebabkan demam parah dan kemungkinan besar ditularkan ke manusia dari hewan di Tiongkok timur. Adapun virus yang dimaksud adalah Langya henipavirus (LayV).

Melansir Al Jazeera, LayV ditemukan pada 35 orang di provinsi Shandong dan Henan di Tiongkok, yang diuji antara 2018 dan 2021, menurut sebuah surat yang diterbitkan di New England Journal of Medicine awal bulan ini. Menurut para peneliti dalam surat tersebut, virus tersebut bisa menyebabkan demam akut, kelelahan, batuk dan kehilangan nafsu makan.

Tidak hanya itu, bahkan beberapa pasien disebutkan juga mengalami nyeri tubuh, mual, muntah dan sakit kepala hingga mengalami gangguan fungsi hati. Di sisi lain, para peneliti, yang berbasis di Tiongkok, Australia, dan Singapura, mengatakan LayV pertama kali diidentifikasi pada seorang wanita berusia 53 tahun pada Desember 2018 lalu, selama pengawasan pasien yang mengalami demam akut dan riwayat paparan hewan baru-baru ini.

Kemudian, para peneliti diketahui juga melakukan survei hewan domestik dan liar untuk melacak hewan inang virus, dan menemukan RNA Langya paling dominan pada tikus, mamalia kecil dengan moncong panjang dan mata kecil. Mereka pun mengatakan bahwa sekitar 27 persen tikus dites positif terkena virus, menunjukkan bahwa hewan itu mungkin "reservoir alami LayV".


Lalu, sekitar 5 persen anjing dan 2 persen kambing juga dinyatakan positif. Peneliti menerangkan bahwa penemuan LayV terjadi kurang dari tiga tahun setelah pandemi COVID-19, yang diyakini para ilmuwan juga disebabkan oleh limpahan virus dari hewan ke manusia.

Meski begitu, menurut para peneliti, virus LayV tidak seperti SARS-CoV2, virus yang menyebabkan COVID-19. Menurut mereka, sejauh ini tidak ditemukan bukti penularan dari manusia ke manusia untuk LayV.

"Tidak ada kontak dekat atau riwayat paparan umum di antara pasien, yang menunjukkan bahwa infeksi pada populasi manusia mungkin sporadis," terang para peneliti, dilansir dari Al Jazeera, Kamis (11/8).

"Pelacakan kontak dari 9 pasien dengan 15 anggota keluarga kontak dekat mengungkapkan tidak ada penularan LayV kontak dekat, tetapi ukuran sampel kami terlalu kecil untuk menentukan status penularan dari manusia ke manusia untuk LayV," lanjut peneliti.

(wk/tiar)

You can share this post!

Artikel Terkait