Komnas HAM Beber Temuan Soal Tragedi Kanjuruhan, Suporter Tak Serang Pemain-Asal Mula Kerusuhan
Nasional
Tragedi Kanjuruhan

Komnas HAM menjadi salah satu pihak yang turut mengusut tragedi Kanjuruhan. Pihak Komnas HAM lantas membeberkan temuan awal dari pengusutan tragedi yang menewaskan ratusan korban jiwa itu.

WowKeren - Sejumlah pihak hingga saat ini diketahui masih terus berupaya untuk mengusut tragedi Kanjuruhan. Seperti yang diketahui, beberapa waktu lalu, sempat terjadi kerusuhan usai laga Arema FC melawan Persebaya yang hingga menewaskan ratusan korban jiwa di Stadion Kanjuruhan, Malang.

Salah satu pihak yang turut mengusut tragedi Kanjuruhan adalah Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM). Muhammad Choirul Anam selaku Komisioner Komnas HAM bidang Penyelidikan mebeberkan temuan awal dalam insiden tersebut.

Anam mengatakan bahwa pihaknya menemukan suporter Arema atau yang biasa disebut sebagai Aremania yang turun ke area lapangan Stadion Kanjuruhan usai pertandingan itu tidak menyerang pemain. Menurutnya, para suporter hanya ingin memberikan semangat kepada para pemain.

"Para pemain tidak mendapat ancaman dan caci maki, mereka cuma bilang bahwa suporter memberikan semangat kepada para pemain," ujar Anam dalam pernyataan dalam unggahan kanal YouTube Komnas HAM, dilihat Kamis (6/10).

Maka dari itu, kata Anam, Komnas HAM mempertanyakan prosedur pengamanan polisi yang memilih untuk menggunakan gas air mata guna mengendalikan massa. Terlebih, penggunaan gas air mata di dalam stadion sudah dilarang berdasarkan dari aturan FIFA.


Anam lantas menilai bila tata kelola pengamanan dilakukan dengan baik, maka tragedi Kanjuruhan tidak akan terjadi. Ia menyebut bahwa kericuhan di Stadion Kanjuruhan itu bukan lah akibat suporter, melainkan tembakan gas air mata yang diarahkan polisi ke lapangan dan tribun stadion, sehingga membuat penonton panik.

"Kalau ada yang bilang eskalasi penanganan itu timbul karena suporter merangsek masuk ke dalam lapangan, kami mendapatkan informasi bahwa tidak begitu kejadiannya," terang Anam.

Lebih lanjut, Anam menerangkan bahwa tembakan gas air mata lah yang membuat panik dan sebagainya sehingga ada terkonsentrasi di beberapa titik pintu. "Ada pintu yang terbuka sempit, terus ada pintu yang tertutup, itulah yang membuat banyak jatuh korban," beber Anam.

Di samping itu, menurut Anam kronologi peristiwa yang sebenarnya sesaat sebelum insiden itu penting untuk didalami. Pasalnya, narasi awal menyebut bahwa para korban jiwa yang jatuh akibat kekerasan suporter.

Dalam hal itu, Anam mengatakan bahwa Komnas HAM telah meminta keterangan dari sejumlah pihak untuk memastikan kebenaran peristiwa tersebut. Termasuk juga dengan pemain yang turun ke lapangan.

(wk/tiar)

You can share this post!

Rekomendasi Artikel
Berita Terkait