Film 'The Point Men' Hyun Bin Didasarkan pada Kisah Nyata, Indonesia Pegang Peran Kunci
Megabox Plus M
Film

Film 'The Point Men' yang dibintangi oleh Hyun Bin ternyata didasarkan pada kisah nyata yang cukup mengerikan. Kisah ini melibatkan beberapa negara, termasuk Indonesia yang memegang peran kunci.

WowKeren - Film baru Hyun Bin "The Point Men" menarik banyak perhatian usai dirilis pada 18 Januari lalu. Itu karena film ini didasarkan pada kisah nyata yang cukup mengerikan.

"The Point Men" adalah film thriller kriminal aksi yang dibintangi oleh Hyun Bin dan Hwang Jung Min. Film ini menceritakan kerjasama seorang diplomat dan agen NIS yang mempertaruhkan nyawa mereka di tanah asing untuk menyelamatkan warga Korea Selatan (Korsel) yang disandera oleh Taliban.

Plot tersebut didasarkan pada kasus penculikan yang membuat seluruh Korea terguncang. Tepatnya ketika ketika 23 misionaris Korsel ditangkap dan disandera di Afghanistan pada tahun 2007.

Peristiwa itu bermula ketika 23 misionaris ditangkap dan disandera oleh Taliban saat melakukan perjalanan melalui Provinsi Ghazni di Afghanistan pada 19 Juli 2007. Kelompok itu terdiri dari 16 wanita dan 7 pria yang sedang menjalankan misi yang disponsori oleh Gereja Presbiterian Saemmul.

Mereka sedang melakukan perjalanan dari Kandahar ke Kabul ketika sopir bus mengizinkan dua pria lokal untuk naik. Keduanya ternyata anggota Taliban, dan mereka mulai menembak untuk menghentikan bus. Setelah berhasil menguasai bus, misionaris Korea ini dipindahkan ke beberapa lokasi dalam kelompok yang terdiri dari tiga atau empat orang.

Pada 20 Juli, Taliban menuntut Korsel untuk menarik angkatan bersenjatanya dari Afghanistan dalam kurun waktu 24 jam. Karena Korsel dijadwalkan menarik pasukannya pada akhir 2007, mereka mengajukan permintaan tambahan agar presiden Afghanistan saat itu membebaskan semua tahanan Taliban. Namun itu dikurangi menjadi pembebasan 23 tahanan dengan imbalan nyawa para sandera.


Bahkan sebelum negosiasi dimulai, mereka telah mengeksekusi Bae Hyeong Gyu, seorang pendeta Korsel yang berusia 42 tahun. Lima hari kemudian, mereka juga menembak seorang pria Korsel yang bernama Shim Seong Min (29 tahun).

Meski sempat memperpanjang tenggat waktu untuk pembebasan sandera, Taliban mulai mengancam akan membunuh misionaris yang diculik. Pada 1 Agustus, perwakilan Korea Selatan di Washington DC bertemu dengan pakar Penculikan/Ransom Afghanistan dari SCG International Risk. Mereka akhirnya membantu Korsel bernegosiasi dengan Taliban.

Kedua belah pihak memulai negosiasi tatap muka pada 10 Agustus, yang menyebabkan pembebasan dua sandera perempuan yakni Kim Gyeong Ja dan Kim Ji Na pada 13 Agustus. Namun lima hari kemudian perwakilan Taliban menyatakan bahwa negosiasi tersebut gagal dan nasib para sandera tidak pasti.

Pada 28 Agustus, 19 sandera yang tersisa akhirnya berhasil diamankan dan mereka dibebaskan pada 29 dan 30 Agustus. Hal ini tidak lepas dari peran Indonesia yang berstatus sebagai negara netral. Bahkan Presiden Indonesia saat itu, Susilo Bambang Yudhoyono, memberi penghargaan tertinggi kepada pihak Indonesia yang terlibat.

"Saya beri penghargaan kepada diplomat di Afghanistan yang ikut berkontribusi dalam penyelesaian damai pembebasan sandera asal Korsel," ujar Susilo Bambang Yudhoyono saat itu.

Kasus ini sendiri sempat menghebohkan publik Korsel. Meski komunitas Muslim di sana mengutuk kejadian tersebut, berbagai protes dan demonstrasi terus diadakan di Masjid Pusat Seoul.

Karena didasarkan pada kasus penculikan nyata, film "The Point Men" Hyun Bin akhirnya menarik perhatian banyak pihak. Termasuk korban dan keluarga para misionaris tersebut.

(wk/eval)

You can share this post!

Rekomendasi Artikel
Berita Terkait