Madonna diberikan waktu 14 hari untuk menanggapi tuntutan delapan pekerja Raising Malawi yang dipecat tanpa gaji dan tunjangan.
- Tim WowKeren
- Selasa, 29 Maret 2011 - 11:05 WIB
WowKeren - Madonna menghadapi berbagai tuntutan mengenai kegiatan amal yang dia bentuk untuk negara Malawi, sebuah negara miskin di benua Afrika. Ia dianggap bertanggungjawab secara hukum atas nasib delapan mantan pegawai badan amal Raising Malawi karena dipecat tanpa mendapat gaji dan tunjangan. Pemberhentian itu berkaitan dengan pembatalan proyek sekolah di Malawi, Raising Malawi Academy for Girls, yang dibentuknya tahun 2006, bersama Rabbi Michael Berg, wakil direktur Kabbalah Centre Internasional.
"Kami meminta gaji dan tunjangan yang belum dibayar," kata pengacara para pekerja, Mzondi Chirambo, kepada New York Daily News. "Para pekerja akan tinggal di sini. Pengadilan akan memutuskan."
Mzondi mengatakan bahwa pihaknya telah mengajukan gugatan tanggal 21 Maret, tiga hari sebelum kabar tentang pembatalan proyek sekolah itu di New York. Mzondi menegaskan bahwa pihaknya memberikan waktu 14 hari kepada Madonna untuk menanggapi para mantan staffnya itu.
Salah satu mantan pegawai Madonna yang dipecat adalah Dr. Anjimile Oponyo, yang sebelumnya menjabat sebagai pimpinan Raising Malawi Academy. Saat ini Anjimile berada di Amerika Serikat untuk menjalani perawatan medis. Anjimile merupakan saudara wakil presiden Malawi yang harus berhenti dari pekerjaannya di Bank Dunia karena diminta Madonna memimpin Raising Malawi Academy.
Madonna didukung sejumlah selebriti untuk mendirikan badan amal Raising Malawi namun membatalkan rencana untuk membangun sekolah dengan budget 15 juta dollar untuk 400 anak perempuan di luar ibukota Lilongwe. Sebelumnya sebanyak 3,8 juta dollar telah dihabiskan untuk melancarkan rencana tersebut.
Peringatan akan kehancuran proyek tersebut sudah terlihat tahun lalu, ketika direktur eksekutif bidang amal Raising Malawi yang juga kekasih dari mantan pelatih kebugaran Madonna, Philippe van den Bossche, dipecat atas dugaan penyalahgunaan wewenang. Saat dilakukan audit di organisasi tersebut, ditemukan penyimpangan pengeluaran khususnya pada gaji karyawan, pembelian peralatan ruang kantor, keanggotaan kursus golf, sampai perumahan gratis dan sebuah mobil lengkap dengan sopir pribadi untuk direktur sekolah.
Menurut Mzondi, kliennya diperlakukan tidak adil selama berada di Raising Malawi. Anjimile bahkan sempat dipaksa untuk menandatangani perjanjian penghentian kasus diskriminatif yang dialaminya. Namun, Madonna dan Philippe menolak berkomentar mengenai masalah tersebut.
Sementara itu, seorang penasehat hukum yang disewa oleh Madonna, Trevor Neilson, mengatakan bahwa meskipun sudah mengeluarkan 3,8 juta dollar oleh tim manajemen sebelumnya, proyek tersebut tetap tidak bisa dilanjutkan secara keseluruhan karena kurangnya akuntabilitas dari tim manajemen di Malawi dan tim manajemen di AS.
"Kami belum menentukan dengan pasti apa yang terjadi pada semua uang 3,8 juta dolar itu," kata Trevor. "Kami tidak bertanggungjawab dengan semua dana yang sudah digunakan."
Bagaimanapun, menghentikan proyek sekolah yang telah didukung oleh Tom Cruise, Gwyneth Paltrow dan selebriti Hollywood lainya yang menganut ajaran Kabbalah, memicu kemarahan di kalangan warga desa Chinkhota. Pasalnya, mereka sudah menyerahkan rumah mereka agar bisa dibuat jalan menuju sekolah yang akan dibangun di atas tanah seluas 117 hektar, dekat ibu kota Lilongwe. Kepala Kepala Desa Chinkhota, yang tidak disebutkan namanya, mengatakan bahwa dirinya kini bingung memberikan penjelasan kepada warganya karena takut dikatakan penipu.
Sementara itu, dalam sebuah pernyataan resmi, Madonna mengatakan bahwa ia sebenarnya juga kecewa dengan pembatalan proyek pendirian sekolah itu. Padahal, ungkap Madonna, krisis pendidikan tingkat tinggi tengah melanda wilayah Malawi. Menurutnya, 67 persen anak perempuan Malawi terpaksa tidak bisa lanjut ke sekolah menengah.
"Itu tidak bisa dibiarkan. Tim kami akan bekerja keras dengan segala cara yang kami bisa," kata Madonna. "Saya frustrasi karena pekerjaan pendidikan yang kami rancang ini tidak berjalan dengan lancar."
(wk/)