UNICEF mengaku banyak penyedia layanan tidak mau mengambil risiko atas sanksi yang diberlakukan untuk Korea Utara.
- Tim WowKeren
- Rabu, 31 Januari 2018 - 08:50 WIB
WowKeren - Dewan Keamanan PBB telah mengeluarkan sanksi lebih keras pada Korea Utara. Sanksi ini terkait dengan percobaan rudal balistik antarbenua yang dilakukan negara tersebut. Akibat sanksi ini, banyak rakyat Korea Utara, terutama anak-anak, terkena dampaknya.
UNICEF (Lembaga Pendanaan untuk Anak-anak PBB) menyatakan bahwa sanksi ini turut memperlambat pengiriman bantuan kemanusiaan bagi anak-anak di sana. Meskipun berdasarkan undang-undang PBB pengiriman bantuan tetap bisa dilaksanakan ketika mendapatkan sanksi, UNICEF mengungkapkan bahwa itu bukanlah hal yang mudah.
Omar Abdi, Wakil Direktur Eksekutif UNICEF mengatakan bahwa pengiriman barang menjadi lama dan sulit dilakukan. Perusahaan yang menyediakan barang atau kapal menjadi sangat berhati-hati terkait dengan sanksi internasional ini. Mereka tidak mau mengambil risiko telah melanggar sanksi.
"Hal yang terjadi adalah bank dan perusahaan yang menyediakan barang dan kapal menjadi sangat berhati-hati," ujar Omar. "Mereka tidak mau mengambil risiko nantinya jika dikaitkan telah melanggar sanksi."
Direktur Program Darurat UNICEF, Manuel Fontaine, menduga akibat sanksi ini akan ada 60 ribu anak-anak yang kekurangan gizi. Anak-anak ini akan kekurangan gizi protein dan kalori. Hal tersebut tentu saja menyebabkan kematian.
"Kami memproyeksikan bahwa pada suatu saat selama tahun ini, 60 ribu anak-anak akan menjadi sangat kekurangan gizi. Malnutrisi ini bisa berpotensi kematian. Mereka akan kekurangan protein dan kalori," ujar Manuel. "Kami sangat khawatir, itu tidak akan membaik."
Secara keseluruhan ada 200 ribu anak-anak Korea Utara yang menderita gizi buruk akut. Diantara jumlah tersebut, ada 60 ribu anak-anak yang sudah terkena kekurangan gizi parah.
UNICEF adalah satu dari sedikit lembaga bantuan yang memiliki akses ke negara yang terisolasi tersebut. Korea Utara sendiri telah mengalami tragedi kelaparan yang terjadi pada pertengahan tahun 1990an dan menewaskan hingga tiga juta orang.
(wk/)