Fahri Hamzah Nilai Banyak Lembaga Survei Tak Objektif: Perlu Semacam Regulasi Khusus
Nasional

Dengan adanya peraturan khusus diharapkan bisa membuat lembaga survei bekerja secara lebih profesional dan bertanggung jawab.

WowKeren - Sejumlah lembaga survei telah merilis hasil laporan mereka mengenai elektabilitas masing-masing Paslon. Sayangnya, hasil laporan tersebut berbeda antar lembaga satu dengan yang lainnya.

Calon presiden nomor urut 02 Prabowo Subianto bahkan menyebut bahwa banyak lembaga survei yang berbohong. "Rakyat sudah capek dengan pencitraan, sudah capek dengan lembaga survei yang akal-akalan yang banyak bohong," kata Prabowo di hadapan massa pendukungnya saat menggelar kampanye akbar di Makassar, Minggu (24/3).


Prabowo juga mengingatkan jika lembaga survei terus-terusan bekerja tanpa mengedepankan objektivitas, tidak menutup kemungkinan akan kehilangan kepercayaan rakyat. "Lama-lama kau tidak punya pekerjaan lho karena rakyat nggak percaya dengan kamu punya pekerjaan itu alias banyak bohongnya," lanjut prabowo.

Menanggapi hal ini, Wakil Ketua DPR Fahri Hamzah ikut angkat bicara. Ia menilai bahwa Indonesia memerlukan adanya undang-undang khusus yang bisa mengatur lembaga survei. Hal ini dimaksudkan agar lembaga survei bisa bekerja secara bertanggung jawab.

"Kita memerlukan mungkin semacam UU begitu atau regulasi tentang lembaga survei," kata Fahri di Kompleks Parlemen, Jakarta, Senin (25/3). "Supaya kerja dari lembaga survei lebih bertanggung jawab, tidak partisan."

Menurut kacamata Fahri, tak sedikit lembaga survei yang melakukan kesalahan saat meneliti. Selain itu, banyak juga lembaga survei yang sudah kehilangan independensi. Lembaga survei semacam ini, dikatakan Fahri, adalah mereka yang bekerja untuk kandidat tertentu sehingga hasil yang dipaparkan sudah tidak lagi objektif.

"Kalau lembaga survei itu sudah dibiayai oleh kandidat, sebaiknya dia mengumumkan bahwa dia bukan lembaga survei independen," tegas Fahri. "Tetapi dia lembaga survei yang bekerja untuk kandidat."

Pernyataan Prabowo yang menyoroti independensi lembaga survei, dikatakan Fahri, merupakan bentuk kepedulian Capres 02 tersebut terhadap Pemilu agar tetap berjalan jujur dan adil. Sebab, hasil laporan dari lembaga survei ada yang dibuat sedemikian rupa untuk membangun opini publik.

"Kan selama ini niatnya memang nyerang. Ya terang aja masyarakat kan terbelah," tutur Fahri. "Tapi kemudian mengembangkan opini bahwa 'ini pemilihnya itu radikal', akhirnya bikin takut orang. Ah itu apa begitu. Itu bukan kerjaan ilmuwan itu, pekerjaannya provokator."

You can share this post!

Related Posts
Loading...