Foto dua orang pria yang mempertaruhkan tanah seluas 1 hektare di Empagae, Watang Sidenreng, Sidrap, Sulawesi Selatan, untuk kemenangan paslon dalam Pilpres viral di media sosial.
- Bertilia Puteri
- Selasa, 16 April 2019 - 17:11 WIB
WowKeren - Baru-baru ini, warganet dihebohkan dengan foto viral dua orang pria yang bertaruh kemenangan paslon dalam Pilpres 2019. Tak tanggung-tanggung, bahan taruhan tersebut adalah tanah seluas 1 hektare di Empagae, Watang Sidenreng, Sidrap, Sulawesi Selatan.
Dalam foto yang viral, tampak dua pria bersalaman di lapangan rumput. Lalu ada pula kuitansi tertanggal 15 April 2019 yang berisi taruhan Pilpres merujuk hasil KPU Pusat.
"Taruhan sebidang tanah seluas 1 Ha yang berlokasi di sebelah utara Puskesmas/Kantor Camat Empagae," demikian kutipan kuitansi tersebut. Perjanjian tersebut diteken atas nama Hendrik Arhadi dan Muh. Aziz C.
Meski sudah viral dan menggegerkan warganet, taruhan tersebut tidak benar-benar terjadi. Dilansir detikcom pada Selasa (16/4), salah seorang pria dalam foto tersebut, Hendrik Arhadi, menjelaskan bahwa tanah yang dimaksud dalam taruhan bohongan tersebut merupakan sebuah lahan kosong yang tak difungsikan selama lebih dari 10 tahun.
"Itu taruhan bohongan, tanah yang dimaksud itu adalah lapangan sepakbola yang sudah 10 tahun lebih tidak diperhatikan," jelas Hendrik, Senin (15/4). "Mudah-mudahan dengan ini ada yang memperhatikan. Entah itu pemerintah atau siapa."
Lapangan kosong yang tak pernah difungsikan tersebut menjadi alasannya untuk mengambil foto taruhan tersebut. Ia berharap pemerintah yang terpilih dalam Pemilu 2019 dapat menjadikan lahan tak terurus itu sebagai pusat aktivitas warga.
"Bisa dibilang bentuk protes agar lapangan diperhatikan," terang Hendrik. "Sudah 10 tahun lebih, anak-anak di sini dan remaja-remaja di sini tidak ada kegiatan olahraga."
Terkait dengan Pilpres 2019, Hendrik mengakui memang memiliki pilihan berbeda dari Aziz yang "bertaruh" dengannya. Namun kedua pria ini sama-sama berharap agar pemerintah terpilih dapat memperhatikan sarana umum di daerah.
"Perhatikan sarana-sarana olahraga yang ada. Karena tiap orang memiliki hobi, kesukaan yang berbeda. Contohnya lapangan sepakbola," tutur Hendrik. "Kasihan yang berbakat tapi tidak tersalurkan, setidaknya anak-anak dan remaja di sini memiliki kesibukan yang bermanfaat (olahraga)."
(wk/Bert)