Said mengatakan, ulama harus menyampaikan dorongan yang optimis kepada umat. Bukan menakut-nakuti atau mengintimidasi. Bahkan dalam Alquran tertulis kekerasan dan paksaan, teror serta intimidasi dilarang
- Nur Islamiyah
- Sabtu, 04 Mei 2019 - 11:32 WIB
WowKeren - Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Said Aqil Siradj mengatakan bahwa tokoh agama seharusnya mengayomi serta memberikan pendidikan persatuan kepada umatnya. Menurutnya, ulama tidak boleh memberikan pandangan yang memecah belah bangsa.
"Peran ulama dalam hal ini adalah mengayomi masyarakat dan memberi contoh," kata Said dalam acara Multaqim Alim Ulama, Habib dan Cendekiawan Muslim di Hotel KArtika Chandra, Jakarta Selatan, pada Jumat (4/5) kemarin. "Para ulama memberi contoh berkata benar, tidak pernah bohong, tidak mengadu domba, berkata apa adanya, tidak fitnah apalagi ujaran kebencian."
Said mengatakan, ulama harus menyampaikan dorongan yang optimis kepada umat. Bukan menakut-nakuti atau mengintimidasi. Bahkan dalam Alquran tertulis kekerasan dan paksaan, teror serta intimidasi dilarang.
Selain itu, Said mengimbau kepada seluruh umat muslim di Tanah Air untuk menghentikan rasa permusuhan setelah berlangsungnya Pilpres 2019. "Mari kita kembali terhadap prinsip-prinsip agama Islam," tuturnya.
Menurut Said, di dalam Islam terdapat ajaran-ajaran kehidupan yang selalu dipegang teguh umat muslim, yakni mengajar untuk terus menyambung silaturahmi, saling memaafkan dan bertolerasi. Islam, kata Said, melarang kebencian, dendam, bermusukan yang berkepanjangan.
Said menjelaskan, setiap umat muslim dilarang menyimpan dendam dengan orang lain dan berujung tidak saling menyapa. Maksimalnya mereka harus kembali berbaikan dalam waktu tiga hari. "Bahkan tidak menyapa dan saling diam selama tiga hari itu sudah dikutuk oleh malaikat," lanjutnya.
Seperti diketahui, usai penyelenggaraan Pilpres 2019, masyarakat Indonesia seolah tepecah menjadi dua kubu, pendukung Prabowo-Sandi dan Jokowi-Ma'ruf. Keadaan politik di Indonesia pun semakin memamas lantaran diduga terjadi banyak kecurangan pada Pilpres 2019.
(wk/nris)