Franz Magnis angkat bicara soal buku-bukunya yang dirazia oleh kelompok Brigade Muslim Indonesia (BMI) di Makassar, Sulawesi Selatan, lantaran dinilai menyebar paham Marxisme.
- Bertilia Puteri
- Selasa, 06 Agustus 2019 - 08:15 WIB
WowKeren - Kelompok Brigade Muslim Indonesia (BMI) melakukan razia terhadap buku-buku yang mengandung paham Marxisme dan Leninisme di Makassar, Sulawesi Selatan. Salah satunya adalah buku-buku karya Romo Franz Magnis.
Menanggapi razia tersebut, Magnis rupanya tak acuh lantaran peristiwa itu bukan hal baru untuknya. "Jadi itu bagi saya adalah tanda kebodohan besar, kebodohan yang tidak ada batasnya," ujar Magnis dilansir detikcom pada Selasa (6/8).
Magnis menjelaskan bahwa buku-bukunya sebenarnya tidak berisi anjuran agar pembaca menganut Marxisme-Leninisme (Komunisme). Namun, bukunya justru berisi kritik terhadap paham tersebut.
Ia lantas mempersilakan semua pihak untuk membaca bukunya untuk mengetahui isi yang sebenarnya. "Silakan dibaca saja," tutur Magnis.
Sebelumnya, BMI menyebut buku karya Magnis menyebarkan ajaran Karl Marx dengan hanya membaca sinopsis buku saja. Namun Magnis kembali menegaskan bahwa buku-buku karyanya, seperti "Pemikiran Karl Marx: dari Sosialisme Utopis ke Perselisihan Revisionisme" dan "Dari Mao ke Marcuse: Percikan Filsafat Marxis Pasca-Lenin", bukan menyebarkan paham Marxisme, Leninisme, Komunisme, atau Maoisme.
Magnis justru mengkritik ideologi-ideologi tersebut. "Kritis sekali, sangat kritis," ungkap Magnis.
Bagi Magnis sendiri, peristiwa razia buku "kiri" bukanlah hal yang baru. Penyabet gelar Doktor dari Universitas Munchen ini mengaku sudah mengalami hal serupa sejak 17 tahun lalu. Padahal buku-buku karyanya merupakan tinjauan kritis terhadap paham-paham "kiri" tersebut.
"Saya tidak peduli. Buku-buku ini sudah lama di pasar. Yang terjadi di Makassar itu dilakukan oleh orang-orang bodoh, saya terus terang saja tidak peduli," ujar Magnis. "Orang melihat gambar Lenin mengira itu penyebaran Leninisme, orang melihat gambar Marx mengira itu penyebaran Marxisme. Saya bisa mengerti bahwa Gramedia harus memperhatikan orang-orang seperti itu. Kita hidup di dalam masyarakat di mana memang ada orang-orang bodoh."
Sementara itu, polisi menyebut bahwa razia yang dilakukan BMI tidak disertai dengan penyitaan buku. Razia tersebut hanya berujung pada imbauan kepada pihak Gramedia agar tak menjual buku-buku "kiri" tersebut. Gramedia sendiri setuju dan akhirnya menyimpan buku-buku itu di gudang.
(wk/Bert)