Disebut Lokasi Ibu Kota Baru, BMKG Ungkap Potensi Gempa dan Tsunami di Kaltim
Nasional

Kepala Bidang Mitigasi Gempabumi dan Tsunami BMKG, Daryono, juga menjelaskan bahwa gempa bumi yang memicu timbulnya tsunami pernah terjadi di Kaltim pada 1921.

WowKeren - Provinsi Kalimantan Timur (Kaltim) sempat disebut sebagai lokasi Ibu Kota RI yang baru. Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) lantas mengungkapkan bahwa berdasar catatan sejarah Kaltim bukanlah wilayah yang sepenuhnya aman dari potensi gempa bumi dan tsunami.

Menurut Kepala Bidang Mitigasi Gempabumi dan Tsunami BMKG, Daryono, di wilayah Kaltim terdapat 3 struktur sesar sumber gempa. 2 di antaranya, yakni Sesar Maratua dan Sesar Mangkalihat, masih aktif.


"Hasil monitoring kegempaan oleh BMKG terhadap Sesar Maratua dan Sesar Mangkalihat di wilayah Kabupaten Berau dan Kabupaten Kutai Timur menunjukkan masih sangat aktif," tutur Daryono dalam keterangan tertulis bertajuk "Potensi Gempa dan Tsunami di Kalimantan Timur" pada Jumat (23/8). "Tampak dalam peta seismisitas pada 2 zona sesar ini aktivitas kegempaannya cukup tinggi dan membentuk klaster sebaran pusat gempa yang berarah barat-timur."

Daryono juga menjelaskan bahwa gempa bumi yang memicu timbulnya tsunami pernah terjadi di Kaltim pada 1921. Kala itu, gempa dan tsunami menimbulkan dampak kerusakan yang cukup besar di Sangkulirang, Kaltim.

"Gempa dan Tsunami Sangkulirang pada 14 Mei 1921. Dampak gempa Sangkulirang dilaporkan menimbulkan kerusakan memiliki skala intensitas VII-VIII MMI, yang artinya banyak bangunan mengalami kerusakan sedang hingga berat," jelas Daryono. "Gempa kuat ini diikuti tsunami yang mengakibatkan kerusakan di sepanjang pantai dan muara sungai di Sangkulirang, Kaltim."

Sementara itu, berdasarkan kajian Pusat Studi Gempa Nasional pada 2017, Sesar Mangkalihat memiliki potensi gempa mencapai magnitudo 7,0. Berdasarkan catatan sejarah, pantai Kaltim juga bukan kawasan aman tsunami.

"Keberadaan Pantai Timur Kaltim yang berhadapan dengan 'North Sulawesi Megathrust' tentu juga patut diwaspadai," lanjut Daryono. "Hasil pemodelan skenario tsunami akibat gempa bumi berkekuatan magnitudo 8,5 yang berpusat di zona megathrust Sulawesi Utara menggunakan TOAST (Tsunami Observation and Simulation Terminal) di BMKG menunjukkan bahwa di Pantai Kalimantan Timur berpotensi terjadi tsunami dengan status ancaman 'awas' dengan tinggi tsunami di atas 3 meter."

Oleh sebab itu, BMKG menyatakan semua potensi gempa dan tsunami harus direspons dengan upaya mitigasi. Dengan demikian, dampak bencana di daerah rawan bisa ditekan sekecil mungkin.

"Seluruh gempa yang bersumber di wilayah Kalimantan Timur dipicu oleh aktivitas sesar aktif," terang Daryono. "Sehingga meskipun magnitudonya tidak sebesar yang bersumber di zona megathrust, maka tetap dapat berdampak merusak bangunan jika tidak diantisipasi dengan sebaik-baiknya."

You can share this post!

Related Posts
Loading...